Archives For author

BAHASA DAN KETUNARUNGUAN

PENDAHULUAN
Pemerolehan dan perkembangan bahasa berkaitan erat dengan kemampuan pendengaran seseorang, karena pemerolehan dan perkembangan bahasa dalam prosesnya banyak dipengaruhi oleh sedikit banyaknya akses bunyi-bunyi dari lingkungan, khususnya akses bunyi bahasa yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya, walaupun sebenarnya akses pendengaran bukan satu-satunya penentu pemerolehan dan perkembangan bahasa seseorang. Contohnya, dapat dilihat dari beberapa kasus orang yang mengalami gangguan pendengran berat tetapi perkembangan bahasanya cukup baik, bahkan ada yang kemampuan berbahasanya hampir mendekati kemampuan orang-orang yang mendengar. Anda pasti mengetahui kasus-kasus tersebut. Kondisi ini terjadi berkat bantuan para professional, khususnya para pendidik orang-orang yang mengalami gangguan pendengran (tunarungu). Jadi, bantuan profesional turut memberikan kontribusi dalam pemerolehan bahasa, khususnya pemerolehan bahasa orang yang mengalami gangguan pendengaran (tunarungu).
Berdasarkan beberapa kenyataan tersebut, anda sebagai calon profesional dalam pendidikan anak tunarungu, perlu memahami
permasalahan-permasalahan kebahasaan orang-orang yang mengalami ketunarunguan dan memahami hakekat bahasa itu sendiri.
A. Tujuan
Sesuai dengan dasar-dasar kompetensi yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh calon profesional pendidikan anak tunarungu, modul ini bertujuan agar anda memiliki dan mampu mengembangkan kompetensi, yang meliputi permasalahan-permasalahan ketunarunguan, cara-cara pemerolehan bahasa dan hakekat bahasa itu sendiri. Secara lebih rinci, tujuan modul ini dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Anda diharapkan memahami permasalahan-permasalahan ketunarunguan, khususnya permasalahan kemampuan bahasanya
2. Anda diharapkan memahami proses pemerolehan bahasa anak-anak pada umumnya dan anak-anak yang mengalami ketunarunguan
3. Anda diharapkan memahami hakekat bahasa sebagai media komunikasi, dalam hal ini anda dapat membedakan bahasa dan komunikasi.
4. Anda sebagai calon profesional dalam bidang pendidikan anak tunarungu diharapkan memahami konsep artikulasi
5. Anda sebagai calon profesional dalam bidang pendidikan anak tunarungu diharapkan memahami konsep optimalisasi fungsi pendengaran untuk kegiatan komunukasi
B. Manfaat
Modul ini diharapkan akan sangat bermanfaat bagi pengembangan teori, khususnya dalam pengembangan keterampilan berbahasa anak tunarungu. Dengan mempelajari modul ini Anda diharapkan memperoleh (a) pengetahuan yang berarti untuk meningkatkan profesionalisme Anda (b) wawasan tentang permasalahan-permasalahan ketunarunguan yang berkaitan dengan perkembangan kebahasaannya, (c) pemahaman yang memadai tentang ketunarunguan dan pemerolehan bahasanya, juga diharapkan memperoleh (d) wawasan tentang cara-cara mengoptimalkan fungsi pendengaran, (e) cara-cara mengartikulasikan bunyi bahasa
C. Strategi
Setelah Anda memahami tujuan dan manfaat mempelajari modul ini, ikutilah bagian modul ini secara bertahap berkelanjutan. Siapkanlah diri anda sebagai pembelajar yang selalu ingin tahu dan ingin menerapkan pengetahuan. Yakinkan bahwa Anda akan berhasil menguasasi materi dan dapat mempraktikkannya dengan baik. Bacalah bagian demi bagian dengan suasana hati yang tenang, carilah tempat belajar yang nyaman. Jika perlu gunakan musik pengiring kesukaan Anda saat membaca. Pelajari setiap bagian secara cermat dan seksama. Beberapa pertanyaan dan panduan akan mencoba mengaitkan bagian
ini dengan apa yang pernah Anda ketahui. Agar motorik Anda ikut aktif, buatlah catatan-catatan khusus.
KEGIATAN BELAJAR 1 :
Bahasa dan Ketunarunguan
Manusia adalah mahluk individu yang tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan social, semenjak kelahirannya proses perkembangan individu manusia diwarnai oleh kematangan dan hasil pembelajaran yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya, karena individu manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya sesuai dengan pengalaman dan tingkat kematangannya. Pada saat pertama setelah kelahirannya, individu manusia (bayi) melakukan interkasi melalui gerak-gerak fisik – menggerak-gerakan anggota badan, kaki, tangan, dan tangisan, sejalan dengan kematangan fungsi-fungsi organ fisik dan psikisnya serta pengalamannya, pola interkasi bayi sedikit demi sedikit mengalami perubahan, dari yang sifatnya fisik berubah menuju yang sifatnya verbal dan pada akhirnya interkasi mereka lebih efisein dan efektif dengan cara verbal – sesuai dengan pemerolehan dan perkembangan bahasanya.
Individu manusia yang ”normal” (mendengar) setiap saat selalu berinteraksi dengan individu-individu manusia lainnya, baik dalam lingkungan keluarga (terdekatnya) maupun dengan lingkungan masyarakatnya. Peristiwa interaksi tersebut dapat terjadi karena masing-masing mendapatkan akses melalui pendengarannya serta saling mengerti dan memahami makna simbol dan maksud yang dikomunikasikan dalam interaksi tersebut.
Interkasi dalam komunikasi pada umumnya menggunakan media. Media yang digunakan berupa simbol atau tanda-tanda yang disebut sebagai bahasa. Permasalahannya, tidak semua media (bahasa) difahami oleh semua orang, karena setiap komunitas memiliki simbol-simbol sendiri. Misalnya, orang Minahasa memiliki bahasa, tetapi belum tentu
dapat melakukan interaksi komunikasi dengan orang Sunda yang notabene telah memiliki simbol atau bahasa sendiri yang berbeda dengan orang Minahasa. Ini menunjukkan bahwa interaksi dalam berkomunikasi dapat terlaksana apabila simbol atau bahasa yang digunakan dimengerti dan difahami oleh dua belah pihak pelaku interaksi, atau simbol yang digunakan disepakati bersama oleh pihak-pihak pelaku interaksi.
Bahasa yang digunakan dalam melakukan interaksi komunikasi umumnya menggunakan bahasa lisan atau bahasa oral. Bahasa ini paling banyak diperoleh melalui akses pendengaran, karena bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap menghasilkan pola-pola getaran (arus bunyi), getaran-getaran tersebut paling mudah diakses melalui alat-alat pendengaran. Dan setelah diakses melalui alat-alat pendengarannya, kemudian disimpan dalam ingatannya di daerah bagian otak (sound-bank), kemudian ditiru (diucap ulang) sehingga terjadi yang disebut dengan pemerolehan bahasa. Hal tersebut menunjukkan bahwa, modalitas utama untuk berbahasa lisan dengan baik diperlukan kemampuan mendengar yang baik dan alat ucap yang mampu memproduksi bunyi bahasa serta memiliki kemampuan menafsirkan simbol-simbol tersebut.
Permasalahannya, bagaimana dengan orang yang mengalami gangguan pendengaran ?
Orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran pada umumnya mengalami kesulitan dalam mengakses bunyi bahasa, karena alat-alat pendengaran mereka kurang/tidak mampu mengakses bunyi-bunyi bahasa yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian, orang yang mengalami gangguan pendengaran, kemampuan berbahasa lisannya akan mengalami hambatan, karena modalitas utama untuk melakukan peniruan pola-pola bunyi bahasa yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya tidak dimiliki, artinya kemampuan
pendengarannya tidak cukup untuk mengakses pola bunyi bahasa di lingkungannya.
Agar orang yang mengalami gangguan pendengaran dapat berbahasa lisan mendekati kemampuan orang yang mendengar, mereka perlu dilatih kemampuan sisa-sisa pendengarannya sehingga dapat dioptimalkan untuk mengakses bunyi bahasa dan perlu diberikan pengalaman-pengalaman atau latihan-latihan cara pengucapannya, dan apabila sisa-sisa kemampuan pendengarannya tidak dapat difungsikan lagi untuk mengakses bunyi bahasa karena adanya gangguan pendengarannya yang berat, maka alat-alat indera lainnya, seperti perasaan vibrasinya perlu dilatihkan agar dapat dimanfaatkan sebagai pengganti fungsi indera pendengarannya. Dan apabila ini sulit dilakukan maka orang yang mengalami gangguan pendengaran akan mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa lisannya.
Orang-orang yang sudah tidak memungkinkan lagi mengakses bunyi bahasa melalui indera pendengarannya dan orang yang mengalami kesulitan memproduksi bunyi bahasa karena adanya kerusakan organ bicara atau kelayuan syaraf-syaraf organ bicaranya perlu ada alternatif bahasa lainnya yang dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan interaksi komunikasinya, misalnya: media isyarat, abjad jari, atau simbol-simbol lainnya yang dapat diakses melalui indera penglihatan dan indera perabaan. Dengan demikian, orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran perlu mempelajari dan memiliki media komunikasi yang memungkinkan untuk dapat terjadinya interaksi komunikasi.
Anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran sebagaimana anak-anak pada umumnya yang mendengar, mereka membutuhkan media untuk mengkomunikasikan gagasan, perasaan, dan pikiran-pikirannya kepada orang lain. Menurut Bunawan (1996) terdapat beberapa cara berkomunikasi yang dapat dilakukan orang, termasuk orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran, antara lain
melalui: gesti dan atau ekspresi muka, suara tanpa menggunakan kata-kata, wicara, tulisan, dan media lain seperti lukisan dan dan sebagainya.
Hakekat komunikasi dan bahasa
Setiap makhluk tidak hanya makhluk manusia, termasuk binatang selalu mengadakan komunikasi. Kita perhatikan ayam, misalnya ketika ada bahaya, atau ketika menemukan makanan, induknya mengkomunikasikan kepada anaknya dengan cara mengeluarkan suara atau dengan gerakan-gerakan tertentu, begitupun binatang lainnya, memiliki cara-cara tertentu dalam mengkomunikasikannya. Ini dapat difahami bahwa komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sebenarnya cara komunikasi yang digunakan tidak menjadi persoalan, yang terpenting adalah pesan/kehendak dapat disampaikan kepada yang lainnya. Demikian juga komunikasi pada manusia, pesan dapat dikomunikasikan melalui berbagai cara atau ragam, walaupun manusia selalu cenderung menggunakan cara bicara. Misalnya, ketika memanggil seseorang, dapat dilakukan dengan berbagai cara, dapat dilakukan dengan cara bicara, isyarat, atau dengan gesti. Dalam hal ini, cara tidak terlalu penting, yang penting bahwa orang yang dipanggil mengerti pesan komunikasi yang dimaksud. Komunikasi dapat berlangsung apabila orang yang diajak berkomunikasi memahami cara/media komunikasi yang digunakan.
Komunikasi
Komunikasi menurut kamus Macquarie dalam Bunawan (1996) adalah keberhasilan dalam menyampaikan pesan/pikiran/gagasan seseorang kepada orang lain. Dalam batasan tersebut, dapat dikemukakan dua aspek penting dalam berkomunikasi, yaitu:
1. Adanya keberhasilan dalam menyampaikan gagasan/pikiran /perasaan
2. Tidak adanya ketentuan tentang bentuk/cara komunikasi yang perlu digunakan, karena dalam batasan tersebut tidak menyebutkan
perlunya digunakan cara tertentu, misalnya harus cara lisan, ragam tulisan, atau isyarat dan gambar tertentu. Ini menunjukkan bahwa komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, artinya dapat dilakukan dengan cara lisan, tulisan, gesti, isyarat, ekspresi muka, suara tanpa kata-kata dan lainnya. Inti dari komunikasi yaitu tersampaikannya pesan-pesan dengan utuh
Bahasa
Bahasa merupakan sesuatu yang berbeda dengan komunikasi. Bahasa merupakan suatu ragam yang khas yang disepakati bersama untuk berkomunikasi.
Bahasa merupakan suatu kode atau sistem lambang. Setiap benda atau sesuatu memiliki lambang tersendiri. Dengan demikian, memahami suatu bahasa berarti mengetahui dan mengerti kode/lambang dan aturannya. Ada lambang untuk setiap benda, dan ada pula lambang untuk segala perasaan orang, dan setiap lambang bahasa tersebut memiliki aturan. Untuk itu, memahami suatu bahasa, berarti mengenal lambangnya, tahu artinya dan memahami aturannya atau cara menyusun lambang-lambang tersebut sehingga difahami oleh orang lain. Menurut Bloom & Lakey dalam Bunawan (1996), bahasa merupakan suatu kode dimana gagasan/ide tentang dunia/lingkungan sekitar diwakili oleh seperangkat simbol yang telah disepakati bersama guna mengadakan komunikasi. Dengan demikian, mengetahui suatu bahasa, berarti mengetahui seperangkat simbol dan mengetahui aturannya serta mengetahui cara/sistem komunikasinya. Ada dua hal penting agar gagasan/pesan/pikiran dan perasaan dapat disampaikan kepada orang lain, yaitu: (1) mengetahui bahasa atau simbolnya, dan (2) memiliki cara komunikasi dalam bahasa tersebut.
Bicara atau bahasa lisan merupakan salah satu cara atau media berkomunikasi yang paling banyak digunakan orang, walaupun terdapat cara-cara berkomunikasi lainnya, seperti melalui tulisan dan lainnya, tetapi cara lisan merupakan cara komunikasi yang paling lengkap dan
paling banyak digunakan orang. Berkomunikasi, baik cara lisan maupun tulisan atau lainnya tetap memiliki lambang bahasa dan aturan-aturan. Ini difahami, bahwa apabila ingin menyampaikan pesan/gagasan/pikiran kepada orang lain, harus mengetahui cara memilih lambangnya, mengetahui aturan cara memakainya atau cara menyusunnya agar dapat difahami orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memahami suatu bahasa harus: (a) mengetahui lambang, (b) mengetahui aturan dan (c) mengetahui cara mengkomunikasikannya
Seseorang yang mengetahui suatu bahasa dapat memiliki satu atau lebih cara berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Hal tersebut maksudnya adalah memiliki suatu cara berkomunikasi tetapi tidak mengetahui suatu bahasa. Misalnya seorang penatar orang Australia, dia menguasai cara komunikasi secara lisan (bicara), tetapi tidak menguasai bahasa Indonesia, ingin mengkomunikasikan pesan kepada orang Indonesia. Dalam keadaan demikian tanpa penerjemah, percuma saja untuk berkomunikasi dengan bicara. Ini dapat disimpulkan bahwa ada dua konsep penting komunikasi, yaitu:
1. Orang dapat berkomunikasi tanpa bahasa, tetapi komunikasi akan menjadi lebih efektif apabila menggunakan suatu bahasa. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kode dan aturan suatu bahasa, maka akan terjadi komunikasi yang efektif
2. Bahasa mengandalkan satu atau lebih cara komunikasi, yaitu lisan dan tulisan, malahan dapat juga dengan isyarat, yang penting adalah bahwa lambang dan aturannya tetap sama, yang berbeda hanya cara atau metode komunikasinya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa dan komunikasi merupakan dua hal yang berbeda tetapi ada hubungannya
Wicara
Cara komunikasi Tulisan menggunakan lambang dan
Isyarat aturan yang sama
Anak yang memiliki gangguan pendengaran tidak dapat atau kurang mampu berbicara dengan baik. Berbicara bukan satu-satunya cara untuk berkomunikasi, karena bicara merupakan salah satu cara dari sekian cara berkomunikasi, maka permasalahan utama anak yang mengalami gangguan pendengaran bukan pada ketidak-mampuannya dalam berkomunikasi melainkan akibat dari hal tersebut terhadap perkembangan kemampuan berbahasanya, yaitu ketidak-mampuan untuk memahami lambang dan aturan bahasa.
Kemampuan berbahasa tidak diperoleh melalui penularan begitu saja (kematangan) dan juga tidak melalui diajar secara khusus (language is neither caught nor taught). Contoh, bayi yang baru lahir tidak tahu bahasa dan tidak tahu lambang bahasa, juga tidak ada orang yang sengaja mengajar bahasa ibu kepadanya. Lalu apa yang terjadi sebenarnya sampai bayi mampu berbahasa ? menurut Chomsky bahwa ”struktur bahasa telah ditentukan secara biologis.” Dengan demikian, anak sejak semula sudah memiliki kemampuan untuk berkembang kemampuan berbahasanya. Para nativisme memiliki hipotesis adanya sifat-sifat linguistik yang universal, sifat-sifat ini dapat ditemukan pada semua bahasa, berbagai bahasa dalam bentuk luarnya tampak berbeda, tetapi prinsip fundamentalnya sama. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan awal dan kecakapan awal anak merupakan faktor pembawaan.
Chomsky membuat suatu model untuk menunjukkan bagaimana anak belajar tata bahasa. Model ini dikenal sebagai Language Acquisition Device (LAD)
Kemampuan tata bahasa
Data linguistik (kemampuan memben-(input) tuk dan mengerti kalimat) Output LAD
Pengolahan
LAD mendapatkan inputnya dari data bahasa dari lingkungan. Kemudian LAD menjabarkan aturan tata bahasa dari data tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan karena LAD memiliki struktur internal yang dapat menjabarkan struktur yang sama dalam semua bahasa dan juga yang ada dalam data bahasa yang masuk tersebut. Dengan kata lain, sistem LAD tersebut mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk dapat mengadakan penjabaran atau ekstrasi.
Tata bahasa yang generatif transformasonal dalam hal ini memegang peranan yang penting, dia menghubungkan apa yang didengar (struktur permukaan, misalnya besok pagi hari libur, ibu memanggil adik, banyak mobil di jalan) dengan apa yang dimaksudkan (struktur dalam). Tata bahasa ini mengadakan spesifikasi bagaimana arti yang ada di belakangnya dapat diubah menjadi suatu kalimat.
Belajar bicara dan perkembangan struktur neural yang spesifik yang berhubungan dengan bahasa memiliki lokalisasi terutama dalam hemispeer otak bagian kiri dan keduanya berhubungan erat satu sama lain. Apabila terdapat kerusakan pada struktur ini maka pengaruhnya lebih buruk terhadap kemungkinan belajar berbicara, terlebih kalau kerusakannya terjadi pada waktu perkembangan masa anak, sedangkan kaum empirisme, seperti Skinner lebih mendasarkan diri pada teori belajar, dia berpendapat bahwa ”anak dilahirkan tidak membawa kemampuan apa-apa”. Menurut teori belajar klasik, anak-anak belajar bahasa melalui operant conditioning. Anak harus banyak belajar, juga belajar berbahasa yang dilakukan melalui imitasi, belajar model, dan belajar dengan reinforcement. Skinner menggunakan teori stimulus respons dalam menerangkan perkembangan bahasa. Sejalan dengan Skinner yaitu Teori belajar sosial (Bandura) yang berpendapat anak belajar bahasa karena menirukan suatu model.
Teori belajar dapat memberikan pengertian mengenai peranan interaksi. Misalnya, ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa. Para ibu memiliki kecenderungan untuk menerima kalimat yang salah
menurut tata bahasa, asal isinya benar, artinya bila anak dapat menyatakan dengan baik apa yang ingin dikatakannya. Sebaliknya para ibu tidak mau menerima kalimat yang sebetulnya benar menurut tata bahasa, tetapi tidak benar isinya: I want ice cream – Daddy eats meat.
Bahasa ibu dikuasai anak mendengar apabila terdapat dua kondisi terpenuhi, yaitu:
1. anak memperoleh akses bahasa ibu dalam jumlah yang banyak (berada dalam lingkungan bahasa atau anak mandi bahasa). Kata pertama yang biasanya anak ucapkan adalah kata ”mama.” Mengapa ? selain kata tersebut mudah dilafalkan, berdasarkan hasil penelitian, kata tersebut paling sering diucapkan kepada anak. Dalam satu minggu, kata mama tersebut diucapkan sampai 3000 kali. Jadi lambang pertama yang diproduksi anak adalah lambang yang paling sering didengarnya. Jadi syarat utama agar anak berbahasa adalah akses terhadap bahasa dalam jumlah yang besar.
2. adanya kesempatan untuk berinteraksi secara aktif. Selain akses terhadap bahasa masih diperlukan syarat lain. Penelitian yang dilakukan oleh A. Trip, dalam penelitiannya yaitu meneliti keluarga yang menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi kepada tiga anaknya yang mendengar. Keluarga tersebut hidup di suatu daerah terpencil di Amerika Serikat dan jarang berhubungan dengan orang-orang yang mendengar. Keluarga tersebut menginginkan agar anaknya mampu berbahasa lisan (bahasa Inggris), maka ketiga anaknya itu sering didudukkan di depan televisi agar anaknya menerima akses bahasa Inggris, tetapi ternyata sewaktu diadakan penelitian dan anak-anaknya yang berusia 4,6, dan 7 tahun tersebut, tidak ada diantara mereka yang bisa berbahasa Inggris secara lisan, mereka hanya mampu mengucapkan beberapa kata atau memiliki beberapa lambang, dan mereka tidak mengerti aturan dalam bahasa dan tidak dapat memahami ketika diajak berbicara, mereka hanya bisa berbahasa isyarat. Pertanyaannya, mengapa mereka tidak dapat
berbahasa Inggris walaupun ada akses bahasa Inggris yang banyak melalui televisi. Karena untuk menguasai bahasa bukan hanya akses bahasa yang banyak tetapi ada persyaratan lain yaitu harus ada interaksi secara aktif dalam bahasa tersebut. Penguasaan bahasa akan tumbuh apabila ada akses bahasa dan ada interaksi (percakapan) yang aktif.
Anak yang mendengar melakukan cara komunikasi melalui mendengar bicara orang lain di sekitarnya dan berbicara dengan orang di sekitarnya dan pada waktu masih bayi belum berbahasa tetapi memiliki cara komunikasi, yaitu mendengar dan berbicara (aural dan oral). Dengan demikian, bahasa dapat berkembang melalui kegiatan komunikasi.
Bagaimana dengan anak yang memiliki gangguan pendengaran ? mereka dapat dikatakan tidak memiliki cara berkomunikasi yang dapat diandalkan. Anak yang mengalami kehilangan pendengaran berat, tidak memiliki akses terhadap bahasa dan tidak memiliki kesempatan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan berbahasa lisan, dan ini mengakibatkan bahasa mereka tidak akan berkembang, karena tanpa metode komunikasi yang baik tidak mungkin kemampuan bahasa dapat berkembang dengan baik. Agar kemampuan berbahasa anak yang memiliki gangguan pendengaran berkembang, mereka perlu dibekali suatu cara komunikasi yang dapat diandalkan, dan untuk anak yang memiliki gangguan pendengaran ringan diupayakan mereka menggunakan ABM agar mereka dapat mengakses bahasa lisan, dibekali latihan-latihan cara komunikasi lisan (berbicara) agar mereka dapat berinteraksi dengan orang-orang pada umumnya di lingkungan sekitarnya.
Anak-anak yang mengalami kehilangan kemampuan mendengar berat diperlukan cara komunikasi yang berbeda, yaitu dengan isyarat. Dengan menggunakan isyarat, akan menggunakan bahasa yang sama tetapi cara komunikasinya yang berbeda. Misalnya, kata pena dapat
diucapkan, ditulis atau diisyaratkan, dan melalui komunikasi isyarat akan ada akses terhadap bahasa dan kemudian dapat berinteraksi dengan isyarat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak akan mulai berkomunikasi dengan isyarat pada usia yang lebih muda dari pada dengan bicara. Isyarat pertama muncul pada usia 10 bulan, sedangkan kata perama yang diucapkan baru muncul pada usia 14 bulan. Jadi dengan menggunakan cara komunikasi isyarat akan terpenuhi proses perkembangan bahasa yang sama seperti cara komunikasi dengan bicara. Kita perlu menyadari akan adanya perbedaan antara bahasa dan komunikasi. Berbagai cara komunikasi dapat digunakan agar terjadi penguasaan bahasa yang sama, walaupun cara bicara merupakan cara komunikasi yang paling efektif, dan kita perlu menyadari bahwa untuk anak yang mengalami kehilangan kemampuan mendengar berat kemampuan berbahasanya tidak akan berkembang tanpa menggunakan isyarat. Jadi isyarat dapat digunakan sebagai media dalam meningkatkan kemampuan berbahasanya, termasuk untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisannya
Komunikasi total dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak yang mengalami kehilangan kemampuan mendengar berat, karena dengan menggunakan komunikasi total, isyarat maupun berbicara tersedia, karena di dalam penggunaaan komunikasi total, isyarat dan berbicara dilakukan secara bersamaan. Dengan demikian, apabila komunikasi total dilaksanakan dengan utuh maka kemampuan berbicaranya akan semakin baik. Bagi anak yang masih memiliki sisa pendengaran, akses lewat pendengaran, membaca ujaran (speech reading) dan secara visual dengan isyarat perlu dilatihkan dan ditingkatkan.
Banyak cara komunikasi yang dapat dijadikan alternatif dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak yang mengalami gangguan pendengaran, cara komunikasi tersebut dapat menggunakan media isyarat, abjad jari, oral, grafis (tulisan) aural (media suara yang
dapat ditangkap lewat pendengaran), media komunikasi campuran (combined system) seperti oral dengan isyarat; oral dengan abjad jari; oral dengan tulisan, atau dengan komunikasi total, dan penekanan semua cara komunikasi tetap harus pada peningkatan dan pengembangan bahasa oral (berbicara)
Agar anak yang mengalami ketunarunguan, dapat mengembangkan kemampuan berbahasanya atau pemerolehan bahasanya baik, khususnya pemerolehan kemampuan berbicaranya, ada beberapa kondisi yang dapat mengoptimalkan pemerolehan bahasa mereka, yaitu:
1. akses terhadap sejumlah besar bahasa. Untuk anak yang memiliki gangguan pendengaran banyak cara atau alternatif. Untuk anak yang mengalami ketunarunguan ringan dan sedang mungkin cukup dengan memakaikan alat bantu mendengar, dan untuk yang berat dapat menggunakan media isyarat
2. masukkan bahasa yang diperoleh anak harus lengkap. Artinya apabila berbicara dengan anak, gunakan kalimat singkat, sederhana tetapi lengkap dari segi tata bahasanya, walaupun anak masih menggunakan tata bahasa yang belum lengkap
3. orangtua/guru harus menggunakan bahasa yang berada sedikit di atas taraf kemampuan bahasa anak, dan jangan terlalu disederhanakan, agar anak dapat meningkatkan kemampuan bahasanya
4. masukkan bahasa harus diberikan dalam konteks atau situasi komunikasi yang jelas, agar anak dapat memahami interaksi yang terjadi. Misalnya, waktu anak masih kecil, mereka ajak berbicara mengenai hal-hal yang konkrit di lingkungannya, lama kelamaan ditingkatkan kepada pembicaraan yang abstrak agar anak dapat memahami pembicaraan yang di luar konteks, tetapi pada tahap awal konteks harus jelas
5. masukkan informasi harus berlangsung secara konsisten. Artinya harus ada orang yang menguasai bahasa yang digunakan dalam berinterkasi dengan anak. Misalnya, untuk anak gangguan pendengaran berat harus ada orang yang menguasai sistem isyarat supaya masukkan lengkap dan konsisten
6. lingkungan yang menunjang dan positif terhadap bahasa yang diungkapkan anak. Dalam belajar bahasa memerlukan suasana yang menyenangkan agar anak tidak merasa malu atau ragu belajar dan tidak takut salah, dan belajar bahasa banyak diawali dari kekeliruan-kekeliruan yang kemudian dikoreksi dengan cara memberi contoh yang baik
7. menggunakan kosa kata atau tata bahasa yang konsisten. Berkomunikasi dengan anak pada tahap awal, gunakan kata atau isyarat dan aturan yang tetap sama setiap saat, terlebih dalam menggunakan isyarat.
8. bahan pembicaraan menarik minat anak dan interkasi harus berlangsung dalam situasi yang wajar
9. bagi anak gangguan pendengaran berat harus banyak orang di lingkungannya yang menguasai sistem isyarat, dan bagi anak yang mengalami gangguan pendengaran ringan berikan kesempatan untuk menangkap bunyi yang banyak melalui penggunaan alat bantu mendengar
10. lingkungan yang positif dan bersemangat serta menghargai setiap usaha anak. Guru dan lingkungan yang menaruh kepercayaan terhadap kemampuan anak
11. menyediakan unpan balik bagi anak, anak perlu tahu kapan mereka melakukan yang benar dan kapan mereka melakukan yang keliru, tetapi bukan dengan cara menyalahkan tetapi dengan memberikan contoh yang baik
12. gunakan pendekatan percakapan sebagai model pembelajaran
Rangkuman
Ketunarunguan berdampak terhadap kemampuan berbahasa, karena kegiatan berbahasa banyak diwarnai oleh kemampuan pendengaran. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalami gangguan pendengaran (ketunarunguan) dalam pengembangan potensinya perlu diawali dengan pengembangan kemampuan berbahasanyanya, karena bahasa merupakan sarana untuk mendapatkan pengetahuan.
Bahasa dan komunikasi merupakan dua hal yang berbeda tetapi memiliki hubungan. Komunikasi adalah keberhasilan dalam menyampaikan pesan/pikiran/gagasan seseorang kepada orang lain. Dalam komunikasi ada dua asepek penting, yaitu: (1) adanya keberhasilan dalam menyampaikan gagasan/pikiran/perasaan, dan (2) tidak adanya ketentuan tentang bentuk/cara komunikasi yang perlu digunakan, karena dalam batasan tersebut tidak menyebutkan perlunya digunakan cara tertentu. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, artinya dapat dilakukan dengan cara lisan, tulisan, gesti, isyarat, ekspresi muka, suara tanpa kata-kata dan lainnya yang penting yaitu tersampaikannya pesan-pesan secara utuh
Bahasa merupakan sesuatu yang berbeda dengan komunikasi. Bahasa merupakan suatu ragam yang khas yang disepakati bersama untuk berkomunikasi. Bahasa merupakan suatu kode atau sistem lambang. Setiap benda atau sesuatu memiliki lambang tersendiri. Untuk itu, memahami suatu bahasa berarti mengetahui dan mengerti kode/lambang dan aturannya. setiap lambang bahasa memiliki aturan. Memahami suatu bahasa, berarti mengenal lambangnya, tahu artinya dan memahami aturannya atau cara menyusun lambang-lambang tersebut sehingga difahami oleh orang lain.
Bahasa merupakan suatu kode dimana gagasan/ide tentang dunia/lingkungan sekitar diwakili oleh seperangkat simbol yang telah disepakati bersama guna mengadakan komunikasi.
Pemerolehan bahasa menurut faham empirisme dan nativisme berbeda. Menurut faham empirisme ”anak dilahirkan tidak membawa kemampuan apa-apa”. Menurut teori belajar klasik, anak-anak belajar bahasa melalui operant conditioning. Anak harus banyak belajar, juga belajar berbahasa yang dilakukan melalui imitasi, belajar model, dan belajar dengan reinforcement. Sedangkan menurut pandangan nativisme adalah ”struktur bahasa telah ditentukan secara biologis.” Anak sejak semula sudah memiliki kemampuan untuk berkembang kemampuan berbahasanya. Para nativisme memiliki hipotesis adanya sifat-sifat linguistik yang universal, sifat-sifat ini dapat ditemukan pada semua bahasa, berbagai bahasa dalam bentuk luarnya tampak berbeda, tetapi prinsip fundamentalnya sama. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan awal dan kecakapan awal anak merupakan faktor pembawaan.
Evaluasi
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan anda dalam mempelajari modul ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
1. Mengapa anak yang mengalami ketunarunguan mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Jelaskan menurut pemahaman anda
2. Bagaimana proses seseorang sampai mendapatkan pemerolehan bahasa ?
3. Apakah anak yang mengalami ketunarunguan dalam hal pemerolehan bahasa sama dengan anak yang mendengar ?
4. Kemukakan perbedaan faham nativisme dan empirisme dalam pemerolehan bahasa ?
5. Komunikasi dan bahasa dua hal yang berbeda walaupun memiliki hubungan. Jelaskan perbedaan komunikasi dan bahasa ?

ARTIKULASI & OPTIMALISASI FUNGSI PENDENGARAN

KEGIATAN BELAJAR 2:
Dampak kehilangan kemampuan mendengar yang paling menonjol adalah mengalami kekurangmampuan dalam melakukan komunikasi, khususnya dalam melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa yang wajar (lisan). Mengatasi kekurangmampuan melakukan komunikasi dengan bahasa yang wajar, dapat dilakukan melalui latihan-latihan auditori (mengoptimalkan fungsi pendengaran) dan latihan cara mengucapkan bunyi bahasa atau latihan artikulasi.
Pendidik atau calon pendidik anak tunarungu perlu memiliki pengetahuan cara-cara mengartikulasikan bunyi bahasa dan cara-cara memanfaatkan sisa-sisa pendengaran untuk kegiatan komunikasi, dan memiliki keterampilan cara-cara memotivasi, merancang, melatih dan menilai pengucapan bunyi bahasa serta melakukan asesmen kemampuan pengucapan bunyi bahasa anak tunarungu.
Latihan artikulasi dan optimalisasi fungsi pendengaran bagi anak gangguan pendengaran bertujuan agar anak yang mengalami gangguan pendengaran mampu mengembangkan berbahasa secara wajar (lisan), yaitu:
- Membentuk pola ucapan bunyi bahasa yang sesuai dengan aturan
- Memfungsikan organ-organ bicara yang mengalami kekakuan
- Menyadari bahwa setiap pola ucapannya apabila dirangkaikan antara satu dengan lainnya dapat menimbulkan makna-makna tertentu
- Terhindar dari sifat verbalisme
- Menambah perbendaharaan kata untuk kepentingan komunikasi
- Mengembangkan potensinya
- Mengembangkan kepribadiannya
- Mengembangkan emosi secara wajar dan mampu melakukan hubungan sosial dengan baik
A. Pengertian Artikulasi
Pengertian artikulasi sering digunakan orang untuk menunjukan maksud yang berbeda-beda, politikus sering mengatakan ”artikulasikan kehendak rakyat”, seniman sering mengatakan ”penyanyi itu memiliki kemampuan artikulasi yang baik. Dengan demikian kata tersebut sering mengalami perluasan maknanya bahkan pergeseran makna dari maksud kata aslinya. Untuk menghindari penafsiran yang berbeda, khususnya antara penulis dengan anda, berikut ini dikemukakan pengertian artikulasi yang dimaksud dalam konteks modul ini.
Pengertian artikulasi dalam konteks modul ini yaitu gerakan otot-otot bicara yang digunakan untuk berbicara. Otot-otot bicara dalam hal ini yaitu bibir, lidah, velum, sedangkan yang menggerakkan otot-otot bicara tersebut yaitu syaraf cranial, yaitu nervus 10 atau nervus vagus, nervus 12 atau nervus gloso pharyngius dan nervus 5 9. Nervus 10 mensyarafi otot-otot velum, dan nervus 12 yang mensyarafi dinding pharing.
Jadi yang dimaksud dengan artikukasi dalam hal ini adalah gerakan-gerakan otot bicara yang digunakan untuk mengucapkan lambang-lambang bunyi bahasa yang sesuai dengan pola-pola yang standar sehingga dapat dipahami oleh orang lain.
Pengartikulasian bunyi bahasa atau suara akan terbentuk apabila adanya koordinasi unsur motoris (pernafasan), unsur yang bervibrasi (tenggorokan dengan pita suara), dan unsur yang beresonansi (rongga penuturan: rongga hidung, mulut dan dada). Apabila terdapat kelainan atau kerusakan pada salah satu unsur tersebut, maka akan mengakibatkan gangguan dalam artikulasinya. Ada beberapa gangguan yang menyebabkan artikulasi kurang baik, antra lain:
Gangguan pernafasan dapat terjadi karena: 1). Alat-alat pernafasan tidak sempurna, seperti: sakit paru-paru, pleuritis atau radang diselaput-selaput yang menyelubungi paru-paru, gangguan dalam susunan yang menghubungkan paru-paru dengan bagian luar, gangguan otot-otot pernafasan, dan gangguan saraf-saraf yang merangsang otot pernafasan, 2) alat pernafasan sempurna tetapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya
Kumpulan otot-otot dalam pita suara dapat menyebabkan gangguan pembentukan suara. Faktor-faktor penyebabnya antata lain:
1. Gangguan sentral yaitu gangguan pada saraf recurreus atau cabang saraf kelana yang merangsang si otot-otot di pita suara
2. Gangguan ferifer yaitu adanya penghalang dalam hantaran ke urat-urat saraf dari urat-urat syaraf.
Jenis-jenis penyakit akibat kelumpuhan otot, antara lain
1. Satu pita suara tidak dapat bekerja, karena otot-ototnya tidak terangsang lagi. Penyakit ini dapat menyebabakan ”suara esek”
2. Kumpulan otot-otot suara: muscle. Posticus. Otot Posticus ini yang membuka celah suara, kulumpuhan ini menyebabkan pita suara tidak dapat digerakkan.
3. Aphoni: Tidak ada suara. Termasuk gangguan fungsional, yakni pita suara tidak dapat ditutup sehingga tidak ada suara.
4. Phonastani: Suara kurang keras. Termasuk gangguan fungsional, akibat kelelahan (terlalu banyak bicara,pidato), tidak ada kelainan pada pita suara
5. Bengkak atau tumor pada pita suara. Gangguan organis. Suara kurang keras dan tidak jelas. Penyebabnya dapat karena: 1) Infeksi pada pita suara, 2) Terlalu keras berteriak/ menyanyi dengan kurang memperhatikan pernafasan, 3) batuk-batuk
6. Gangguan diwaktu perubahan (pubertet)
Rongga-rongga penuturan:1) rongga mulut, 2) rongga hidung, 3) rongga dada. Rongga mulut dalam adalah rongga yang terletak di belakang anak lidah.
Rongga mulut yang terletak di depan anak lidah yaitu bagian yang membuat huruf-huruf bagian fonetik. Gangguan-gangguan dalam rongga mulut dan hidung: rhinolalia (sengau-sengauan).
- rhinolalia aperta ( udara dan semua bunyi lewat hidung )
- rhinolalia clausa ( udara dan huruf hidung tidak dapat lewat hidung, karena rongga mulut/rongga hidung tertutup)
- rhinolalia aperta ( sengau-sengauan karena tidak dapat menutup anggota hidung )
Sedangkan gangguan artikulasi dapat disebabkan: 1) Karena faktor organis, 2) Karena faktor fungsional.
Faktor Organis
1) Kelainan bawaan
2) Kelainan yang didapat setelah kalahiran
Kelainan bawaan dapat berupa: Langit-langit terbelah (clept palate), kelainan rahang, kelainan susunan gigi, kelainan dalam rongga hidung dan rongga hulu kerongkongan. Kelainan-kelainan rongga mulut dan hidung seperti disebutkan di atas.
Kelainan rahang / susunan gigi
1) Gigi terbuka ke depan, gigi seri rahang atas tidak dapat melewati gigi seri rahang bawah. Hal ini dapat menyebabkan terbuka dan posisi lidahnya terletak diantara gigi seri, akibatnya interdentalis.
2) Gigi terbuka ke sebelah. Gigi-gigi seri rahang atas ketika menutup mulut tidak bisa kena/melewati gigi-gigi rahang bawah, atau susunan gigi tidak teratur. Akibatnya ujaran jadi telor.
3) Prognasi: Rahang atas terlalu kedepan sehingga terdapat lubang antara kedua rahang, bibir tidak dapat menutup.
4) Progeni: Rahang bawah terlalu kedepan
5) Anomalio: Jumlah gigi atau graham tidak cukup
6) Kelainan lidah
7) Kelainan bibir: sumbing atau terbelah
8) Bibir atas terlalu kaku
Kelainan yang didapat setelah lahir, kelainan ini dapat terjadi karena luka, misalnya perforasi langit-langit, dan dapat terjadi akibat kelumpuhan, misalnya: kelumpuhan lidah sebagian atau seluruhnya, operasi polip, pendarahan dalam otak
Gangguan fungsional
Gangguan ini biasanya alat-alat artikulasi baik, tetapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Gangguan-gangguan ini antara lain:
1) Kesanggupan alat-alat artikulasi tidak baik, gerak-gerak otot tidak cukup halus.
2) Gangguan perhatian
3) Meniru gerakan artikulasi yang salah. Anak belajar bicara dengan meniru, apabila di sekelilingnya berartikulasi salah maka anak akan menirukan artikulasi yang salah tersebut.
4) Gangguan pendengaran
5) Lemah ingatan
6) Dyslalia
B. Optimalisasi Fungsi Pendengaran
Pendengaran memegang peran penting dalam pengembangan bahasa, terlebih dalam pengembangan berbahasa lisan. Apabila seseorang terganggu pendengarannya maka orang tersebut akan mengalami gangguan dalam berbahasa, khususnya dalam berbahasa lisan. Ini dapat dilihat pada anak-anak yang mengalami ketunarunguan, mereka pada umumnya perkembangan bahasanya mengalami keterlambatan. Untuk itu, mereka perlu diberikan pengalaman belajar dan latihan-latihan atau pembinaan-pembinaan terhadap sisa-sisa pendengaran yang masih dimilikinya, dan bagi mereka yang mengalami ketunarunguan sangat berat diberikan latihan-latihan pembinaan dan
penghayatan terhadap semua bunyi-bunyi yang ada di sekelilingnya agar perasaan vibrasinya dapat dioptimalkan untuk kegiatan meningkatkan kemampuan berbahasanya.
Optimalisasi fungsi pendengaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan direncanakan secara sistematis untuk memberikan pengalaman-pengalaman pembelajaran dan latihan-latihan mengakses bunyi-bunyian lewat indera pendengaran agar kemampuan mendengar menjadi semakin meningkat sehingga dapat dimanfaatkan dan difungsikan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa.
Kemampuan mendengar apabila tidak dijaga dan dilatih dapat menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan. Untuk itu, dalam optimalisasi fungsi pendengaran disamping pemberian pengalaman belajar dan latihan mengakses bunyi, perlu dilakukan kegiatan konservasi pendengaran agar kemampuan mendengar tidak semakin menurun kemampuannya. Kegitan konservasi pendengaran dapat dilakukan dengan cara-cara: (a) selalu merawat dan membersihkan saluran telinga, (b) selalu menggunakan alat bantu mendengar (ABM) dan, (c) selalu melakukan konsultasi dengan dokter THT.
Optimalisasi fungsi pendengaran pada tahapan awal dilakukan untuk melatih pendengaran dalam mengakses bunyi-bunyi latar belakang yang selalu hadir di lingkungannya. Latihan ini merupakan latihan yang paling mendasar dan sebagai prasyarat untuk latihan mengakses bunyi bahasa.
Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk latihan optimalisasi fungsi pendengaran diberikan secara bertahap mulai dari bahan-bahan untuk latihan menditeksi ada tidaknya bunyi, melokalisasi arah datang bunyi, dan bahan-bahan untuk latihan membedakan sifat-sifat bunyi. Bahan-bahan ini merupakan bahan atau materi yang paling dasar untuk pemberian pembelajaran atau latihan untuk mengoptimalkan fungsi pendengaran dalam meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berbahasa anak yang mengalami gangguan pendengaran
Semua materi dan kegiatan pembelajaran pada pendidikan anak tunarungu terutama pada tingkat dasar harus dapat mendukung kegiatan pengembangan berbahasa, khususnya berbahasa secara wajar (lisan). Untuk itu, pembelajaran atau latihan mengoptimalkan sisa-sisa pendengaran maupun perasaan vibrasi dan latihan artikulasi merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang pengembangan kemampuan berbahasa lisan.
C. Rangkuman
Artikulasi adalah gerakan otot-otot bicara yang digunakan untuk berbicara. Otot-otot bicara yaitu bibir, lidah, velum, sedangkan yang menggerakkan otot-otot bicara tersebut yaitu syaraf cranial, yaitu nervus 10 atau nervus vagus, nervus 12 atau nervus gloso pharyngius dan nervus 5 9. Nervus 10 mensyarafi otot-otot velum, dan nervus 12 yang mensyarafi dinding pharing.
Jadi artikukasi dalam hal ini adalah gerakan-gerakan otot bicara yang digunakan untuk mengucapkan lambang-lambang bunyi bahasa yang sesuai dengan pola-pola yang standar sehingga dapat dipahami oleh orang lain.
Pengartikulasian bunyi bahasa atau suara akan dibentuk oleh koordinasi tiga unsur, yaitu unsur motoris (pernafasan), unsur yang bervibrasi (tenggorokan dengan pita suara), dan unsur yang beresonansi (rongga penuturan: rongga hidung, mulut dan dada).
Pengartikulasian bunyi bahasa dapat terjadi apabila ada model bunyi bahasa yang akan diartikulasikannya. Untuk mendapatkan model bunyi bahasa diperlukan adanya kemampuan mengakses bunyi bahasa tersebut. Untuk itu, salah satunya diperlukan kemampuan pendengaran yang cukup. Hal ini perlu ada kegaiatan mengoptimalkan fungsi pendengaran.
Optimalisasi fungsi pendengaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan direncanakan secara sistematis untuk memberikan pengalaman-pengalaman pembelajaran dan latihan-latihan
mengakses bunyi-bunyian lewat indera pendengaran agar kemampuan mendengar menjadi semakin meningkat sehingga dapat dimanfaatkan dan difungsikan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa.
Kemampuan mendengar apabila tidak dijaga dan dilatih dapat menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan. Untuk itu, dalam optimalisasi fungsi pendengaran disamping pemberian pengalaman belajar dan latihan mengakses bunyi, perlu dilakukan kegiatan konservasi pendengaran agar kemampuan mendengar tidak semakin menurun kemampuannya. Kegitan konservasi pendengaran dapat dilakukan dengan cara-cara: (a) selalu merawat dan membersihkan saluran telinga, (b) selalu menggunakan alat bantu mendengar (ABM) dan, (c) selalu melakukan konsultasi dengan dokter THT.
D. Evaluasi
Untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap kegiatan belajar ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
1. Mengapa anak yang mengalami gangguan pendengaran perlu diberikan pengalaman belajar atau latihan cara-cara mengoptimalkan fungsi pendengaran ?
2. Bagaimana cara-cara yang dapat dilakukan agar sisa-sisa pendengaran yang mengalami gangguan pendengaran tidak semakin menurun ?
3. Buatlah pengertian optimalisasi fungsi pendengaran menggunakan bahasa anda ?
4. Bunyi bahasa dapat dibentuk apabila ada tiga unsur yang berkoordinasi. Unsur-unsur apa saja. Jelaskan!
5. Apabila terjadi kelainan pada rongga mulut, pengucapan (pengartikulasian) tidak akan sempurna. jelaskan
Daftar Pustaka
Bunawan, L. (1997), Komunikasi Total, Latar Belakang Pengembangan Sistem Isyarat Indonesia, Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdikbud
Monks, FJ & Knoers, dkk (2002), Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, Jogyakarta: Gajah Mada University Press
Mukalel, J.C., (2003), Psychology of Language Learning, New Delhi: Discovery Publishing House

KLASIFIKASI DAN JENIS KETUNARUNGUAN

SERTA METODE PENGAJARAN BAHASA

BAGI ANAK TUNARUNGU


Easterbrooks (1997) mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis utama ketunarunguan menurut lokasi ganguannya:

 

  1. Conductive loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarkannya gelombang bunyi ke bagian dalam telinga.
  2. Sensorineural loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau syaraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak. (Ketunarunguan Andi tampaknya termasuk ke dalam kategori ini.
  3. Central auditory processing disorder, yaitu gangguan pada sistem syaraf pusat proses auditer yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinganya itu sendiri. Anak yang mengalami gangguan pusat pemerosesan auditer ini mungkin memiliki pendengaran yang normal bila diukur dengan audiometer, tetapi mereka sering mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya.

Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi, Ashman dan Elkins (1994) mengklasifikasikan ketunarunguan ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Ketunarunguan ringan (mild hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 dB (desibel). Mereka sering tidak menyadari bahwa sedang diajak bicara, mengalami sedikit kesulitan dalam percakapan.
  2. Ketunarunguan sedang (moderate hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB. Mereka mengalami kesulitan dalam percakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar (hearing aid).
  3. Ketunarunguan berat (severe hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 65-95 dB. Mereka sedikit memahami percakapan pembicara bila memperhatikan wajah pembicara dengan suara keras, tetapi percakapan normal praktis tidak mungkin dilakukannya, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
  4. Ketunarunguan berat sekali (profound hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras. Mendengar percakapan normal tidak mungkin baginya, sehingga dia sangat tergantung pada komunikasi visual. Sejauh tertentu, ada yang dapat terbantu dengan alat bantu dengar tertentu dengan kekuatan yang sangat tinggi (superpower).

Survey tahun 1981 di Australia menemukan bahwa 59% dari populasi tunarungu menyandang ketunarunguan ringan, 11% sedang, 20% berat, dan 10% tidak dapat dipastikan (Cameron, 1982, dalam Ashman dan Elkins, 1994).

Perlu dijelaskan bahwa decibel (disingkat dB) adalah satuan ukuran intensitas bunyi. Istilah ini diambil dari nama pencipta telepon, Graham Bel, yang istrinya tunarungu, dan dia tertarik pada bidang ketunarunguan dan pendidikan bagi tunarungu. Satu decibel adalah 0,1 Bel.

Bagi para fisikawan, decibel merupakan ukuran tekanan bunyi, yaitu tekanan yang didesakkan oleh suatu gelombang bunyi yang melintasi udara. Dalam fisika, 0 db sama dengan tingkat tekanan yang mengakibatkan gerakan molekul udara dalam keadaan udara diam, yang hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan instrumen fisika, dan tidak akan terdengar oleh telinga manusia. Oleh karena itu, di dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 dB klinis atau 0 audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan. Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz (Ashman & Elkins, 1994).

Metode dan Pendekatan Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Perdebatan tentang cara terbaik untuk mengajar anak tunarungu berkomunikasi telah marak sejak awal abad ke-16 (Winefield, 1987). Perdebatan ini masih berlangsung, tetapi kini semakin banyak ahli yang berpendapat bahwa tidak ada satu sistem komunikasi yang baik untuk semua anak (Easterbrooks, 1997). Pilihan sistem komunikasi harus ditetapkan atas dasar individual, dengan mempertimbangkan karakteristik anak, sumber-sumber yang tersedia, dan komitmen keluarga anak terhadap metode komunikasi tertentu.

 

 

Metode Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu

Terdapat tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, yaitu dengan membaca ujaran, melalui pendengaran, dan dengan komunikasi manual, atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.

1)   Belajar Bahasa Melalui Membaca Ujaran (Speechreading)

Orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya. Akan tetapi, hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir (Berger, 1972). Di antara 50% lainnya, sebagian dibuat di belakang bibir yang tertutup atau jauh di bagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan, atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembaca bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi-bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi, orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu prabahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non-tunarungu tanpa latihan dapat membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini (Ashman & Elkins, 1994).
Kelemahan sistem baca ujaran ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran (speechreading).

Delapan bentuk tangan yang menggambarkan kelompok-kelompok konsonan diletakkan pada empat posisi di sekitar wajah yang menunjukkan kelompok-kelompok bunyi vokal. Digabungkan dengan gerakan alami bibir pada saat berbicara, isyarat-isyarat ini membuat bahasa lisan menjadi lebih tampak (Caldwell, 1997). Cued Speech dikembangkan oleh R. Orin Cornett, Ph.D. di Gallaudet University pada tahun 1965 66. Isyarat ini dikembangkan sebagai respon terhadap laporan penelitian pemerintah federal AS yang tidak puas dengan tingkat melek huruf di kalangan tunarungu lulusan sekolah menengah. Tujuan dari pengembangan komunikasi isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Cued Speech telah diadaptasikan ke sekitar 60 bahasa dan dialek. Keuntungan dari sistem isyarat ini adalah mudah dipelajari (hanya dalam waktu 18 jam), dapat dipergunakan untuk mengisyaratkan segala macam kata (termasuk kata-kata prokem) maupun bunyi-bunyi non-bahasa. Anak tunarungu yang tumbuh dengan menggunakan cued speech ini mampu membaca dan menulis setara dengan teman-teman sekelasnya yang non-tunarungu (Wandel, 1989 dalam Caldwell, 1997).

2)   Belajar Bahasa Melalui Pendengaran

Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa individu tunarungu dari semua tingkat ketunarunguan dapat memperoleh manfaat dari alat bantu dengar tertentu. Alat bantu dengar yang telah terbukti efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali adalah cochlear implant. Cochlear implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna, dan komponen internal (rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukkan ke dalam cochlea (ujung organ pendengaran) di telinga bagian dalam. Komponen eksternal dan internal tersebut dihubungkan secara elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan pendengaran dengan langsung memberikan stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran (Laughton, 1997).

Akan tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur sintaksis dan fonologi bahasa itu terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang dipergunakannya. Di samping itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibat kehabisan batrai dan earmould yang tidak cocok.

3)   Belajar Bahasa secara Manual

Secara alami, individu tunarungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universalitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa komunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang eksklusif.

 

Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu

Pengajaran bahasa secara terprogram bagi anak tunarungu harus dimulai sedini mungkin bila kita mengharapkan tingkat keberhasilan yang optimal. Terdapat dua pendekatan dalam pengajaran bahasa kepada anak tunarungu secara dini, yaitu pendekatan auditori-verbal dan auditori-oral.

 

 

Pendekatan Auditori verbal

Pendekatan auditori-verbal bertujuan agar anak tunarungu tumbuh dalam lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkanya menjadi warga yang mandiri, partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Falsafah auditori-verbal mendukung hak azazi manusia yang mendasar bahwa anak penyandang semua tingkat ketunarunguan berhak atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan menggunakan komunikasi verbal di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Pendekatan auditori verbal didasarkan atas prinsip mendasar bahwa penggunaan amplifikasi memungkinkan anak belajar mendengarkan, memproses bahasa verbal, dan berbicara. Opsi auditori verbal merupakan strategi intervensi dini, bukan prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam pengajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk mengajarkan prinsip-prinsip auditori verbal kepada orang tua yang mempunyai bayi tunarungu (Goldberg, 1997).

Prinsip-prinsip praktek auditori verbal itu adalah sebagai berikut:

  • Berusaha sedini mungkin mengidentifikasi ketunarunguan pada anak, idealnya di klinik perawatan bayi.
  • Memberikan perlakuan medis terbaik dan teknologi amplifikasi bunyi kepada anak tunarungu sedini mungkin.
  • Membantu anak memahami makna setiap bunyi yang didengarnya, dan mengajari orang tuanya cara membuat agar setiap bunyi bermakna bagi anaknya sepanjang hari.
  • Membantu anak belajar merespon dan menggunakan bunyi sebagaimana yang dilakukan oleh anak yang berpendengaran normal.
  • Menggunakan orang tua anak sebagai model utama untuk belajar ujaran dan komunikasi lisan.
  • Berusaha membantu anak mengembangkan sistem auditori dalam (inner auditory system) sehingga dia menyadari suaranya sendiri dan akan berusaha mencocokkan apa yang diucapkannnya dengan apa yang didengarnya.
  • Memahami bagaimana anak yang berpendengaran normal mengembangkan kesadaran bunyi, pendengaran, bahasa, dan pemahaman, dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu anak tunarungu mempelajari keterampilan baru.
  • Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak dalam semua bidang.
  • Mengubah program latihan bagi anak bila muncul kebutuhan baru.
  • Membantu anak tunarungu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun sosial bersama-sama dengan anak-anak yang berpendengaran normal dengan memberikan dukungan kepadanya di kelas reguler.

Hasil penelitian terhadap sejumlah tamatan program auditori verbal di Amerika Serikat dan Kanada (Goldberg & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997) menunjukkan bahwa mayoritas responden terintegrasi ke dalam lingkungan belajar dan lingkungan hidup “reguler”. Kebanyakan dari mereka bersekolah di sekolah biasa di dalam lingkungannya, masuk ke lembaga pendidikan pasca sekolah menengah yang tidak dirancang khusus bagi tunarungu, dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Di samping itu, keterampilan membacanya setara atau lebih baik daripada anak-anak berpendengaran normal (Robertson & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997).

 

 

Pendekatan Auditori Oral

Pendekatan auditori oral didasarkan atas premis mendasar bahwa memperoleh kompetensi dalam bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif, merupakan tujuan yang realistis bagi anak tunarungu. Kemampuan ini akan berkembang dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan di mana bahasa lisan dipergunakan secara eksklusif. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan rumah dan sekolah (Stone, 1997).

Elemen-elemen pendekatan auditori oral yang sangat penting untuk menjamin keberhasilannya mencakup:

  • Keterlibatan orang tua. Untuk memperoleh bahasa dan ujaran yang efektif menuntut peran aktif orang tua dalam pendidikan bagi anaknya.
  • Upaya intervensi dini yang berfokus pada pendidikan bagi orang tua untuk menjadi partner komunikasi yang efektif.
  • Upaya-upaya di dalam kelas untuk mendukung keterlibatan anak tunarungu dalam kegiatan kelas.
  • Amplifikasi yang tepat. Alat bantu dengar merupakan pilihan utama, tetapi bila tidak efektif, penggunaan cochlear implant merupakan opsi yang memungkinkan.

Mengajari anak mengunakan sisa pendengaran yang masih dimilikinya untuk mengembangkan perolehan bahasa lisan merupakan hal yang mendasar bagi pendekatan auditori oral. Meskipun dimulai sebelum anak masuk sekolah, intervensi oral berlanjut di kelas. Anak diajari keterampilan mendengarkan yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu deteksi, diskriminasi, identifikasi, dan pemahaman bunyi. Karena tujuan pengembangan keterampilan mendengarkan itu adalah untuk mengembangkan kompetensi bahasa lisan, maka bunyi ujaran (speech sounds) merupakan stimulus utama yang dipergunakan dalam kegiatan latihan mendengarkan itu. Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik (mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat). Pengajaran bahasa dilaksanakan secara naturalistik dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada diri anak, tidak dalam setting didaktik. Pada masa prasekolah, pengajaran bagi anak dan pengasuhnya dilakukan secara individual, tetapi pada masa sekolah pengajaran dilaksanakan dalam setting kelas inklusif atau dalam kelas khusus bagi tunarungu di sekolah reguler. Setting pengajaran ini tergantung pada keterampilan sosial, komunikasi dan belajar anak.

Keuntungan utama pendekatan auditori-oral ini adalah bahwa anak mampu berkomunikasi secara langsung dengan berbagai macam individu, yang pada gilirannya dapat memberi anak berbagai kemungkinan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Geers dan Moog (1989 dalam Stone, 1997) melaporkan bahwa 88% dari 100 siswa tunarungu usia 16 dan 17 tahun yang ditelitinya memiliki kecakapan berbahasa lisan dan memiliki tingkat keterpahaman ujaran yang tinggi. Kemampuan rata-rata membacanya adalah pada tingkatan usia 13 hingga 14 tahun, yang hampir dua kali lipat rata-rata kemampuan baca seluruh populasi anak tunarungu di Amerika Serikat.

ditulis oleh Administrator Dinas Pendidikan Luar Biasa Provinsi Jawa Barat
(Dicuplik darihttp://dtarsidi.blogspot.com/2007/08/studikasustunarungu.html, oleh Kurnaeni)

 

A. Pengertian dan Klasifikasi Gangguan Pendengaran

1. Pengertian

Tunarungu dapat di artikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai ransangan, terutama melalui indera pendengarannya. Batasan pengertian anak tunarungu telah banyak di kemukakan oleh para ahli yang semuanya itu pada dasarnya mengandung pengertian yang sama.
Di kemukakan dari beberapa definisi bahwa definisi anak tunarungu dan dapat di tarik kesimpulan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard of hearing) maupu seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalm kehidupan sehari- hari.

2. Klasifikasi tunarungu

a. Klasifikasi secara etiologis
\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
Yaitu pembagian berdasarkan sebab- sebab, tunarungu di sebabkan beberapa factor
1. pada saat sebelum melahirkan
a. salah satu atau kedua orang tua anak menderita tunarungu mempunyai gen sel pembawa abnormal
b. karena penyakit misalnya sewaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit, terutama penyakit- penyakit yang di derita pada saat kehamilan tri semester pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu ialah rubella, moribili, dan lain-lain
c. karena keracunan obat- obatan : pada suatu kehamilan ibu meminum obatan terlalu banyak,atau ibu meminum obat penggur kandungan, hal ini menyebabkan ketunarunguan pada anak yang lahir.
2. pada saat kelahiran
a. prematuritas, yakni bayi yang lahir sebelum waktunya
3. pada saat setelah kelahiran (post natal)
a. karena kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian dalam, misalnya jatuh
b. Klafikasi menurut taraf

klasifikasi menurut tarafnya dapat di ketahui dengan tes audiometeris. Untuk kepentingan pendidikan ketarungan.
3. Pengaruh Pendengaran Pada Perkembangan Bicara dan Bahasa

Perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan ketajaman pendengaran. Akibat terbatasnya ketajaman pendengaran, anak tunarungu tidak mampu mendengar dengan baik. Dengan demikian pada anak tunarungu tidak terjadi proses peniruan suara setelah masa meraban.
Bahasa mempunyai fungsi dan peran pokok sebagai mesia untuk berkomunikasi. Dalam fungsinya dapat pula di bedakan berbagai peranan lain dari bahasa seperti:
• Bahasa sebagai wahana untuk mengadakan kontak atau hubungan
• Untuk mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan keinginan
• Untuk mengatur dan menguasai tingkah laku orang lain
• Untuk pemberian orang lain
• Untuk memperoleh pengetahuan
Perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasi anak tunarungu terutama yang tergolong tunarungu total tentu tidak mungkin untuk sampai pada penguasaan bahasa melaui pendengarannya, melainkan harus melalui pendengarannya. Oleh sebab itu komunikasi bagi anak tunarungu mempergunakan segala aspek yang ada pada dirinya adapun media komunikasi yang dapat di gunakan adalah:
• Anak tunarungu yang mampu bicara, tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan dari pihak anak tunarungu
• Mengunakan isyarat sebagai media

4. Perkembangan Kongnitif Anak Tunarungu

Umunya intelegensi anak tunarungu secara potensial sama dengan anak normal tapi di pengaruhi oleh tingkat kemampuan berbahasanya, keterbatasan informasi, dan kiranya daya abstraksi anak. Dan mengakibatkan penghambat proses pencapaian yang lebih luas. Kerendahan tingkat intelegensi anak tunarungu bukan berasal dari hambatan intelektualnya yang rendah melainkan secara umum karena intelegensinya tidak mendapat kesempatan untuk berkembang tidak semua aspek intelegensi terhambat, aspek intelegensi yang terhambat perkembanganya ialah bersifat verbal, misalnya merumuskan pengertian hubungan, menarik kesimpulan, dan meramalkan kejadian
5. Perkembangan Emosi Anak Tunarungu
Kekurangan akan pemahaman bahasa lisan atau tulisan sering kali menyebabkan anak tunarungu menafsirkan sesuatu secara negative atau salah dan ini sering menjadi tekanan bagi emosinya. Tekanan pada emosinya itu dapat menghambat perkembangan pribadinya dengan menampilkan sikap menutup diri, bertindak agresif, atau sebaliknya menampakkan keimbangan dan keragu- raguan emosi anak tunarungu selalu bergolak di satu pihak karena kemiskinan bahasanya dan di pihak lain karena pengaruh dari luar yang diterimanya. Anak tunarungu bila di tegur oleh orang yang tidak di kenalnya akan tampak resah dan gelisah.

6. Perkembangan Sosial Anak Tunarungu

Anak tunarungu memiliki kelainan dalam segi fisik biasanya akan menyebabkan suatu kelainan dalam penyusuaian diri terhadap lingkungan. Anak tunarungu bsnysk di hinggapi kecemasan karena menghadapi lingkungan yang beraneka ragam komunikasinya, anak tunarungu sering mengalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan karena ia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang bermacam- macam.kesulitan bahasa tidak dapat di hindari untuk anak tunarungu, namun tidaklah demikian karena anak ini mengalami hambatan dalam bicara

7.Perkembangan Prilaku Anak Tunarungu

Pertemuan antara faktor-faktor dalam diri anak tunarungu, yaitu ketidakmampuan menerima ransangan pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktetapan emosi, dan keterbatasan intelegensi di hubungkan denagn sikap lingkungan terhadapnya menghambat perkembangan kepribadiannya

8.Masalah –masalah dan dampak ketunaruguan bagi individu, keluarga, masyarakat, dan penyelengaraan pendidikan
Bagi anak tunarungu sendiri

Anak tunarungu sulit mengartikan kata- kata yang mengandung kiasan, adanya ganguan bicara, maka hal- hal itu merupakan sumber masalah pokok bagi anak tersebut
•Bagi keluarga

Lingkungan keluarga merupakan factor yang mempunyai pengaruh penting dan kuat terhadap perkembangan anak trauma atau anak luar biasa. Anak ini memiliki hambatan sehinga mereka sulit menerima norma lingkungannya tidak mudah bagi orang tua untuk menerima kenyataan bahwa anaknya menderita kelainan atau cacat. Reaksi orang tua menghetahui bahwa anaknya menderita tunarunggu adalah merasa terpukul dan bingung dan timbulnya rasa bersalah.

9.Bagi Masyarakat.

Pada umunya orang masih berpendapat bahwa ank tunarungu tidak dapat berbuat apapun. Pandangan semacam ini sangat merugikan anak tunarungu untuk memperoleh lapangan kerja, dan dia bersaing dengan orang normal. Sulit mendapatkan lapangan kerja mengakibat kecemasan baik dari anak itu sendiri maupun dari keluarganya, sehingga lembaga pendidikan dianggap tidak dapat berbuat sesuatu karena ank tidak dapat berkerja sebagaimana biasanya.

10.Bagi Penyelengara Pendidikan

Persoalan baru yang perlu mendapat perhatian jika anak tunarungu tetap saja harus sekolah pada sekolah khusus (SLB), adalah jika anak- anak tunarungu itu tempatnya jauh dari SLB,maka tentu saja mereka tidak dapat bersekolah. Usaha lain muncul dengan di dirikan asrama di samping sekolah khusus itu. Usaha lainnya yang mungkin akan dapat mendorong anak tunarungu dapat bersekolah dengan cepat adalah mereka mengikuti pendidikan pada sekolah normal atau biasa dan di sediakan program- program khusus bila mereka tidak mampu mempelajari bahan pelajaran seperti anak normal.

Tunarungu Hambatan dan Solusinya

Posted: July 19, 2010 in artikelpedomanTunarungu
Tags: Tunarungu

0

Empat hal yang harus dilakukan bagi orangtua

S: SERVE them with SINCERE INTEREST ( layani mereka dengan tulus hati )

Anak tunarungu lebih sensitive, mereka akan merasa, kalau kita tidak tulus, segan melayani atau tidak peduli dengan mereka. Lahir dengan gangguan pendengaran dampaknya lebih serius daripada gangguan penglihatan. Semua yang diketahui anak tunarungu karena mereka “diberi tahu” dan “diajarkan”. Dengan demikian orangtua mempunyai peran dan tanggung jawab “melayani” mereka dalam arti “memberi informasi dan pengetahuan”

A:ATTENTION with AFECTION ( Perhatian dengan afeksi )

Tuli adalah musibah yang sangat menyedihkan (the most dseperate of human calamities). Mengapa? karena mereka biasanya diabaikan. Ini sebenarnya masih untung, lebih parah lagi kalau mereka kesepian dan ditolak. Orangtua, ingat anak tunarungu pun membutuhkan CINTA dan DISIPLIN.

L:LOOK BEYOND with your SENSITIVE LISTENING SKILL and HEART

Jangan melihat kegagalan anak sebagaimana yang tertera di rapor mereka. Coba bersabar dan cari akar masalahnya, analisa kekuatan dan kelemahannya. Dari sini, orangtua bisa lebih memahami dan coba bekerjasama dengan guru dan para ahli untuk mengatasinya.

T: TOTALLY TUNE INTO THEIR LIVES.

Saya menyadari bahwa hadirnya anak tunarungu di dalam keluarga membawa perubahan besar bagi setiap anggota keluarga. Kita semua harus menata kembali kehidupan ini, juga dengan keuangan dan lain-lainnya. Tetapi, tetaplah “bertahan” ingat “pemenang selalu melalui pengorbanan dan yang kalah selalu banyak berdalih”. (winner always make sacrifices and losers always make excuse).

Masalah yang dialami anak dengan gangguan pendengaran berat adalah :

memproses informasi.
Anak akan mengalami interupsi dalam proses kognitifnya, karena perhatian terhadap stimulus, penerimaan stimulus, pemprosesan informasi yang masuk dan pengekspresiannya akan terganggu, karena ketuliannya.

daya ingat.
Anak sulit mengingat urutan yang diberikan baik secara verbal atau visual, karena daya ingat ini tergantung pada kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif anak.

Berpikir logis dan abstrak.
Anak akan menunjukkan keterlambatan yang signifikan pada usia akhir Taman Kanak-Kanak, karena pengalam mereka hanya terbatas pada kemampuan sensomotorik dan proses visual spatial, tanpa pengalamn verbal. Keterbatasan bahasa akan mempengaruhi kemampuan berpikir logis, abstrak, proses berpikir tingkat tinggi dan kemampuan memecahkan masalah.

Prestasi akademis
Biasanya prestasi mereka lebih rendah.

Pemenuhan kebutuhan akan rasa aman, diterima dan dicintai, harga diri dan aktualisasi diri juga terpengaruh.
Mereka biasanya merasa rendah diri, lemah dan tidak berdaya. Perasaan terisolasi sangat terasa. Karena itu mereka biasanya mengalami masalah sosial dan emosi.

kematangan
Mereka merasa frustasi, kesepian, tidak berdaya dan sangat sedih. ini semua mempengaruhi tingkat kematangannya sebagai individu.

Mengatasi hambatan diatas, digunakan media teknologi dan secara konsisten membuka wawasan anak runarungu melalui “exposure” ke dunia luar. Guru juga banyak menjelaskan secara konkrit melalui komunikasi manual, gerakan dan “acting”. Membaca buku, menonton acara televisi dengan “subtitle” sangat membantu daya asosiasi dan pemahaman atr.

Memberikan pengayaan yang merangsang proses kognitifnya dengan merefleksi, menganalisa dan mengkomunikasikan kembali pengalaman atau proses yang baru dilaluinya. Mendayagunakan fungsi belahan otak kanan dengan merancang materi pengajaran melalui permainan, peragaan, menggambar, menyanyi, drama, bercerita dan berimajinasi, sedemikian rupa agar kedua belahan otak kiri dan kanan berfungsi optimal.

 

hmjplb:

i wan is themes..

Originally posted on WordPress.com News:

I want to let you in on a little secret: when we launched Lovebirds and Ever After almost two weeks ago, we reached 200 active themes on WordPress.com! With so many amazing new themes coming out, we thought it was time for an overhaul of the Theme Showcase.

More Visual

I always judge books by their covers and themes by their screenshots, but the old Theme Showcase’s tiny screenshots made that last one really hard. That problem is now just a fading memory:

Theme Showcase screenshot

And, like everything on WordPress.com these days, these screenshots are HiDPI/retina-ready!

Faster

We now only show the first 20 or so results, loading more as needed with Infinite Scroll. This, and a bunch of other behind-the-scenes improvements will keep things nice and snappy while you look for the perfect theme for your blog. To top it off, all your searches and filters are quickly returned on…

View original 13 more words

ABK (juga) Cikal Bakal Penerus Bangsa

“Inklusi itu treatment-nya sama dengan orang normal, hanya dibantu dibacakan soalnya dan diberi tambahan waktu 30 menit. Justru mereka bahagia dengan cara seperti itu. Jika ada keluhan, maka mereka tentu akan memilih SLB,” kata Musliar, Selasa (24/4/2012), di Jakarta.

Itulah pernyataan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Pendidikan, Musliar Kasim perihal ketiadaan soal berhuruf braille pada Ujian Nasional SMP dan SMA April lalu, yang tertera pada salah satu artikel Kompas.com. Menurutnya, tindakan ditiadakannya soal berhuruf braille di sekolah inklusi merupakan sikap pemerintah dalam menyejajarkan siswa berkebutuhan khusus dengan siswa umum, juga untuk memupuk rasa percaya diri siswa berkebutuhan khusus. Pertanyaannya, sudah sesuaikah penerapan pemikiran tersebut dengan konsep pendidikan inklusif? Sejauh mana pemerintah dan masyarakat Indonesia memahami fungsi ‘pendidikan untuk semua’ yang terkandung dalam sistem pendidikan inklusif??

Satu dekade terakhir, mulai berkembang sistem pendidikan inklusif sebagai salah satu bagian sistem pendidikan nasional. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah reguler dan terbuka bagi semua calon peserta didik tanpa kecuali, tidak membeda-bedakan kemampuan intelektual, emosional, fisik dan faktor lain. Gagasan ini lahir dikarenakan mulai tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan luar biasa yang selama ini dicanangkan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dinilai diskriminatif.

Sebelumnya, pemisahan pendidikan ABK atau anak disabilitas dengan anak-anak pada umumnya diyakini sebagai cara terbaik. ABK dikelompokkan sesuai jenis disabilitas mereka, sehingga hadirlah Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan sebagainya. Kondisi disabilitas yang sama membuat mereka memiliki kebutuhan yang sama, sehingga harus dididik dengan cara dan peralatan yang sama. Tapi, seiring dengan perkembangan ilmu dan kebudayaan yang lebih humanis, pandangan seperti itu dianggap tidak tepat lagi. Secara tidak disadari, penempatan ABK pada SLB menciptakan tembok pemisah antara ABK dan anak-anak nondisabilitas. Akibatnya, masyarakat merasa asing dengan kehadiran penyandang disabilitas. Kaum disabilitas sendiri pun merasa dirinya bukan bagian integral dari lingkungannya, sehingga mereka tersingkir dari dinamika sosial kehidupan bermasyarakat. Padahal, sebagian besar kualitas dan karakteristik ABK sama dengan anak pada umumnya, yakni membutuhkan teman, butuh dilibatkan, dicintai, dan ambil bagian dalam masyarakat (Sue Stubbs, 2002).

Memasukkan ABK ke sekolah formal regular pun agaknya berbuah hal yang kurang bijak. Sebelum sistem pendidikan inklusif dikenal, Indonesia telah memiliki program pendidikan integrasi sejak tahun 1978. Secara konseptual, pendidikan integrasi tak sepenuhnya sama dengan pendidikan inklusif, namun memiliki semangat yang sama, yaitu pengintegrasian pelaksanaan pendidikan anak disabilitas dengan anak nondisabilitas di sekolah umum. Di sekolah integrasi, keanekaragaman kebutuhan khusus seorang anak untuk mengakses pengetahuan di sekolah sering kali tidak terpenuhi dengan baik. Sebagian besar sumber daya dan metode difokuskan pada individu anak, bukan pada keterampilan guru atau sistemnya. Dampaknya, hasil belajar ABK menjadi kurang maksimal karena kendala teknis, bukan karena ketidakmampuan mereka.

Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung, dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk anak disabilitas. Hal serupa juga dinyatakan dalam Permendiknas nomor 70 tahun 2009, bahwa “Pendidikan inklusif bertujuan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan sosial atau memiliki kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya dan mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik”.

Jelas, pendidikan inklusif seharusnya tidak sekadar memasukkan ABK ke dalam sekolah reguler, tapi juga memenuhi kebutuhan ABK dalam mengakses ilmu pengetahuan di sekolah. Kita tinjau kembali perihal ketiadaan soal berhuruf braille yang telah diungkapkan pada awal tulisan ini. ABK yang belajar di sekolah inklusi mungkin memiliki daya intelektual yang sama dengan siswa lainnya. Namun, mereka juga harus memperoleh apa yang menjadi hak mereka. Kenyataannya ketiadaan soal berhuruf Braille tersebut memberikan kendala teknis tersendiri. Misalnya, guru pengawas yang bertugas membacakan soal UN menjadi kebingungan untuk mendeskripsikan soal berbentuk gambar seperti matematika. Siswa juga tidak bisa memilih soal yang dianggap mudah untuk dikerjakan terlebih dahulu. Sangat disayangkan mengapa hal ini dapat terjadi pada UN tahun ini, padahal tahun-tahun sebelumnya soal braille selalu disediakan. Agaknya pemerintah perlu mencermati kembali prinsip-prinsip pendidikan inklusif. Toh, pada dasarnya, ABK tidak berharap untuk diistimewakan, tetapi hanya perlu menerima pelayanan sesuai kebutuhan mereka.

Kisah sedih orang tua yang anaknya ditolak masuk sekolah reguler masih sering terdengar. Beberapa alasan dilontarkan pihak sekolah, di antaranya ketiadaan guru dan peralatan khusus. Pandangan semacam ini agaknya perlu dibenahi. Jika pelaksanaan pendidikan inklusif dimulai dari sekolah-sekolah negeri, seharusnya masalah tenaga pengajar dan fasilitas penunjang bukanlah kendala dalam menerima siswa ABK. Sekolah-sekolah negeri dari SD sampai SMA dibiayai oleh negara. Mulai dari gedung, peralatan, guru, sampai dengan fasilitas penunjang lainnya. Artinya, sekolah-sekolah negeri mestinya tidak mengalami hambatan finansial untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Dengan demikian, sekolah negeri dapat menjadi lokomotif terealisasinya pendidikan inklusif di tanah air, yang kemudian dapat mendorong penciptaan pendidikan inklusif di sekolah-sekolah swasta.

Kendala lain yang sering ditemui adalah penolakan dari wali murid nondisabilitas. Banyak orang tua yang merasa takut jika anaknya bersekolah bersama ABK. Anggapan bahwa kondisi disabilitas dapat menular, atau kekhawatiran bahwa kehadiran ABK akan mengganggu proses belajar mengajar, perlu untuk diluruskan. Pihak sekolah harus dapat memberikan pengertian kepada orang tua siswa bahwa kehadiran ABK justru akan memberikan banyak keuntungan. Kehadiran ABK akan melatih siswa nondisabilitas menghargai perbedaan serta menumbuhkan sifat-sifat mulia anak sejak dini, seperti toleransi dan gemar membantu sesama. ABK sendiri dapat memiliki pergaulan yang lebih luas. Ketika mereka merasa dihargai, maka rasa percaya diri akan tumbuh, kemudian ABK dapat menjadi siswa berprestasi. Dengan kata lain, pendidikan inklusi tidak hanya melatih siswa untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas emosional dan sosial. Bagaimanapun, kecerdasan emosi dan sosial sama pentingnya dengan nilai dan prestasi akademik. Bahkan, bisa jadi kecerdasan emosi-sosial lebih penting untuk kehidupan di masyarakat. Dengan daya intelektual yang diimbangi kecerdasan emosional-sosial, anak-anak akan tumbuh menjadi pemimpin yang lebih berkualitas dan bermartabat di masa mendatang.

Jika kita terlusuri lebih lanjut, masih banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari penerapan pendidikan inklusif. Karena itu, pemerintah dan stack holder pendidikan perlu berperan lebih aktif untuk meningkatkan pemahaman staf pendidik mengenai ABK. Misalnya, dengan melakukan pelatihan dan penyuluhan secara terus-menerus di setiap kabupaten. Sosialisasi kepada masyarakat dapat dilakukan melalui pembuatan iklan layanan masyarakat. Sampaikan kepada publik, seperti apa kehidupan ABK yang sebenarnya, bagaimana mereka mengikuti kegiatan belajar di sekolah reguler, serta manfaat apa saja yang akan diperoleh masyarakat umum dengan turut mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif yang sesuai dengan landasan-landasan hukum dan spiritual yang telah ada.

Tidaklah sia-sia jika sebuah sekolah menerima ABK dan memberikan pelayanan sesuai kebutuhannya. Jika diberikan kesempatan, kaum disabilitas juga dapat mengukir prestasi dan menjadi orang berpengaruh di Negara ini. Sebut saja salah satunya Saharudin Daming. Ia menjadi tunanetra sejak usia 10 tahun, namun berhasil menyelesaikan studinya hingga jenjang Doktoral di Universitas Hassanudin. Ia pun ditetapkan oleh Komisi III DPR sebagai salah satu dari 11 anggota Komnas HAM periode 2007-2012. Ini bukti, seperti apapun kondisi fisik atau intelektual seorang anak, mereka berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas guna membekali diri menyongsong masa depan. Bagaimanapun, mereka juga adalah cikal bakal penerus bangsa, Karena itu, mari kita ubah pandangan miring kita terhadap penyandang disabilitas, khususnya ABK. Seperti halnya perbedaan suku, ras, agama, atau warna kulit, disabilitas pun merupakan sebuah keanekaragaman yang perlu dihargai. Melalui pendidikan inklusif, kita tanamkan paradigma baru pada generasi muda, bahwa disabilitas bukanlah ketidaknormalan, melainkan bagian dari kekayaan humanis yang unik.

Pembelajaran Adaptif dalam Pendidikan Jasmani bagi ABK

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang mengalami kelainan sedemikian rupa baik fisik, mental, sosial maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut, sehingga untuk mencapai potensi yang optimal ia memerlukan Pendidikan luar biasa(PLB).

PLB merupakan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan ABK. Adapun yang dirancang dalam PLB adalah kelas, program dan layanannya. Sehingga PLB dapat diartikan juga sebagai Spesial kelas, program atau layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Anak luar biasa.

ABK bisa memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkahlakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar ABK mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar.

Di satu sisi, Anak luar Biasa harus dapat mandiri, beradaptasi, dan bersaing dengan orang normal, di sisi lain ia tidak secara otomatis dapat melakukan aktivitas gerak. Secara tidak disadari akan berdampak kepada pengembangan dan peningkatan kemampuan fisik dan keterampilan geraknya. Pendidikan jasmani bagi ABK disamping untuk kesehatan juga harus mengandung pembetulan kelainan fisik.

Dengan uraian di atas maka jelas bahwa Pendidikan jasmani yang diadaptasi dan dimodifikas sesuai dengan kebutuhan, jenis kelainan dan tingkat kemampuan ABK merupakan salah satu factor yang sangat menentukan dalam keberhasilan Pendidikan bagi ABK. Keberhasilan ini akan terwujud baik pada PLB dalam bentuk kelas khusus, program khusus, maupun dalam bentuk layanan khusus di SD biasa maupun di tiap jenjang sekolah biasa lainnya.

Apa dan bagaimana pendidikan jasmani bagi ABK atau Pendidikan Jasmani adaptif secara sederhana akan diuraikan dibawah ini:

1. Pengertian pendidikan jasmani adaptif

Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan.

Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor.

Hampir semua jenis ketunaan ABK memiliki problim dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian ABK bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.

2. Ciri dari program pengajaran penjas Adaptif

Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:

  1. Program Pengajaran Penjas adaptif disesuiakan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksutkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai korsi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiatan tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkorsi roda dimodifikasi. Demikian dengan kegiatan yang lainnya. Oleh karena itu pendidikan Jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.

  2. Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan Jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaanya.

  3. Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan Jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progressif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya.

Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut di atas. maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berprilaku dan bersikap sebagai subjek bukan sebagai objek di lingkungannya.

3. Tujuan pendidikan jasmani adaptif.

Sebagaimana dijelaskan di atas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptif dalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendidikan Jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:

  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.

  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.

  3. Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olah raga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.

  4. Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.

  5. Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian social dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.

  6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan appresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.

  7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olah raga yang dapat diminatinya sebagai penonton.

4. Modifikasi dalam pendidikan jasmani adaptif

Bila kita lihat masalah dari kelainannya, jenis Anak Berkebutuhan Khusus dikelompokkan menjadi:

a. ABK yang memiliki masalah dalam sensoris
b. ABK yang memiliki masalah dalam gerak dan motoriknya
c. ABK yang memiliki masalah dalam belajar
d. ABK yang memiliki masalah dalam tingkah lakunya

Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK.

Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:

a. Modifikasi aturan main dari aktifitas pendidikan jasmani.
b. Modifikasi keterampilan dan tehniknya .
c. Modifikasi tehnik mengajarnya.
d. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya

Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergatung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.

PEMBELAJARAN ABK(anak berkebutuhan khusus)

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang mengalami kelainan sedemikian rupa baik fisik, mental, sosial maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut, sehingga untuk mencapai potensi yang optimal ia memerlukan Pendidikan luar biasa(PLB).

PLB merupakan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan ABK. Adapun yang dirancang dalam PLB adalah kelas, program dan layanannya. Sehingga PLB dapat diartikan juga sebagai Spesial kelas, program atau layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Anak luar biasa.

ABK bisa memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkahlakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar ABK mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar.

Di satu sisi, Anak luar Biasa harus dapat mandiri, beradaptasi, dan bersaing dengan orang normal, di sisi lain ia tidak secara otomatis dapat melakukan aktivitas gerak. Secara tidak disadari akan berdampak kepada pengembangan dan peningkatan kemampuan fisik dan keterampilan geraknya. Pendidikan jasmani bagi ABK disamping untuk kesehatan juga harus mengandung pembetulan kelainan fisik.

Dengan uraian di atas maka jelas bahwa Pendidikan jasmani yang diadaptasi dan dimodifikas sesuai dengan kebutuhan, jenis kelainan dan tingkat kemampuan ABK merupakan salah satu factor yang sangat menentukan dalam keberhasilan Pendidikan bagi ABK. Keberhasilan ini akan terwujud baik pada PLB dalam bentuk kelas khusus, program khusus, maupun dalam bentuk layanan khusus di SD biasa maupun di tiap jenjang sekolah biasa lainnya.

Apa dan bagaimana pendidikan jasmani bagi ABK atau Pendidikan Jasmani adaptif secara sederhana akan diuraikan dibawah ini:

1. Pengertian pendidikan jasmani adaptif

Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan.

Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor.

Hampir semua jenis ketunaan ABK memiliki problim dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian ABK bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan dan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.

2. Ciri dari program pengajaran penjas Adaptif

Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:

  1. Program Pengajaran Penjas adaptif disesuiakan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksutkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai korsi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiatan tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkorsi roda dimodifikasi. Demikian dengan kegiatan yang lainnya. Oleh karena itu pendidikan Jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  2. Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan Jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaanya.
  3. Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan Jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progressif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya.

Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut di atas. maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berprilaku dan bersikap sebagai subjek bukan sebagai objek di lingkungannya.

3. Tujuan pendidikan jasmani adaptif.

Sebagaimana dijelaskan di atas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptif dalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendidikan Jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:

  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
  3. Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olah raga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
  4. Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  5. Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian social dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
  6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan appresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
  7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olah raga yang dapat diminatinya sebagai penonton.

4. Modifikasi dalam pendidikan jasmani adaptif

Bila kita lihat masalah dari kelainannya, jenis Anak Berkebutuhan Khusus dikelompokkan menjadi:

a. ABK yang memiliki masalah dalam sensoris
b. ABK yang memiliki masalah dalam gerak dan motoriknya
c. ABK yang memiliki masalah dalam belajar
d. ABK yang memiliki masalah dalam tingkah lakunya

Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK.

Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:

a. Modifikasi aturan main dari aktifitas pendidikan jasmani.
b. Modifikasi keterampilan dan tehniknya .
c. Modifikasi tehnik mengajarnya.
d. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya

Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergatung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.

KULTUR PENDIDIKAN MASIH DISKRIMINASI ANAK ABK

Dunia pendidikan mengarahkan semua sekolah untuk berkarakter, namum kenyataan di budaya sekolah dalam keseharian belum dilaksanakannya secara utuh motto karakter. Sudut pandang anak ABK. Apakah Anak ABK bisa masuk sekolah umum dengan anak normal dalam satu kelas ataukah memang mereka ada di sekolah khusus. Padangan menerima anak ABK di sekolah umum atau sekolah khusus! Ada beberapa faktor: pertama, cara berpikir mendidik bukan di arahkan kepada kognitif inteleklual semata, namum keseimbangan antara kognitif berpikir intelektual memang harus, namum prilaku anak tidak kala penting juga di perhatikan. Pengalaman pengasuh dan mendidik anak ada budaya “biarkan” sekolah Internal kami, memang ada anak normal dan anak ABK: tentu tidak semua anak ABK di terima, karena penanganannya tentu berbeda – beda sesuai prilaku anak tersebut. Pertanyaan kami apakah mereka biar di lingkungan khusus anak ABK sama anak ABK, menurut kami bisa, namum dampak yang anak ABK tersebut terima prilaku menjadi lebih cepat berubah mungkin sangat lambat, sekalipun ada perubahan. Pandangan kami, anak ABK memang bisa ada di kelas bersama anak normal, dengan kreteria penerimaan yang perlu pantau perkembangan historis awal keterangan dari orang tuanya sehingga sekolah bisa mengarahkannya di dalam orang tua melibatkan mengawasi serta menanyakan ke guru tingkat perkembangan anak di kelas tetapi memberikan  kesempatan anak ABK dapat pendidikan, baru di arahkan ke prosesnya. Tetapi kebanyakan sekolah tutup diri dengan anak ABK. pengamatan saya terutama memperhatikan sikap pertama anak normal memang ia tolak ko di sekolah ini ada anak ABK, tetapi sering kami tekankan saling menghargai, saling berbagi, hal semacam ini terus ditekankan pada akhirnya saya lihat dalam keseharian mereka di lingkungan sekolah makin lama bisa mereka terima hal ini tidak terlepas dari peran semua guru, bahwa sesungguhnya kita hanyalah alat untuk mengarahkan anak, tidak lebih, sekali pun kita punya status sosial ada. Kedua, Perjalanan dan pengalaman kami mendidik seiring waktu berjalan, pada akhirnya banyak hal positif saya melihat anak yang normal bisa menerima anak ABK dengan pengertian mereka dalam menyapa dan bermain satu sama lain, bagi kami ini poin penting anak bisa salaing terima dan bermain lanjutan kami lembaga hanya mengarahkan sesuai visi dan misi kami bahwa penekanan kita semua sama dalam hak – hak kita mendapatkan pendidikan,(semua punya hak) cuma terkadang status budaya, dan cara berpikir kita lah yang membatasi diri kita melihat anak yang ABK dan anak normal berbeda. Ketiga, bahwa sesungguhnya dalam pengalaman kami beberapa anak ABK punya prestasi yang bagus, dan itu tandanya bahwa apakah anak ABK perlu satu kelas dengan anak – anak normal? sekolah sering masih mendiskriminasi anak – anak ini, di pihak lain dalam acara2 tv sering kita melihat mereka punya prestasi, namum di sisi lain dunia dan kultur pendidikan Indonesia masih mendiskriminasikan mereka, sekalipun seminar dimana2 dalam dunia pendidikan coba memperhatikan hak anak, namum kenyataan sekolah masih di liputih jangan menerima anak ABK. ya kita juga di harus mengatakan anak ABK harus di terima, namum mereka harus ada kesempatan mendapat pendidikan, tergantung anak ABK mana yang  di terima karena ada macam2 sikologi pribadi masing2 ada klasifikasi karena semua anak ABK tentu di tangani secara khusus pula sesuai dengan prilaku anak itu sendiri. mungkin ini ulasan umum bahwa kultul pendidikan kita belum menerima mereka ada di sekolah entah negeri atau pun swasta. Kalau pun lembaga yang menerima anak ABK kadang ada diskriminasi juga dari sekolah lain, bahkan mungkin di ketawain mengapa kamu menerima, biar mereka ada di sekolah khusus aja, jadi memang tidak mudah sekolah umum negeri atau swasta menerima anak ABK,,,

PEDOMAN TEKNIS
BANGUNAN SEKOLAH LUAR BIASA

 

 

PENDAHULUAN

Penulisan Pedoman Teknis Bangunan Sekolah Luar Biasa ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang persyaratan teknis bangunan sekolah pada semua fihak yang memerlukan. Informasi, ini disiapkan untuk digunakan sebagai pegangan konsultan perencanaan pembangunan dalam mendisain fasilitas sekolah.

Dengan adanya dokumen ini, diharapkan dapat dihasilkan perencanaanr yang fungsional, mencerminkan ciri pendidikan yang umum maupun yang khusus dan murah pemeliharaannya guna tercapainya efektivitas dan efisiensi pendidikan.

Penjelasan, uraian dan persyaratan yang tercantum dalam buku ini adalah salah satu dasar acuan kerja yang harus diikuti oleh konsultan dalam merencanakan bangunan sekolah mengingat perumusan Pedoman Teknis Bangunan ini lebih bertitik tolak pada pendekatan aspek pendidikan.

Perencanaan yang dimaksud berkewajiban memadukan persyaratan yang diminta dalam Pedoman Teknis Bangunan ini dengan semua acuan umum atau prinsip perencanaan yang relevan.
Perencanaan juga harus memperhatikan dan mengikuti semua peraturan pemerintah untuk perencanaan pembangunan yang berlaku secara lokal maupun nasional.

Pedoman Teknis Bangunan SLB ini disusun untuk tiap jenis ketunaan yang ada dalam jajaran pendidikan luar biasa.

Pedoman Teknis Bangunan SLB ini secara umum isinya dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok yang pertama, adalah Bab I tentang penjelasan umum Sekolah Luar Biasa, Bab II Persayaratan Umum dan Bab III yang isinya Persayaratan Khusus yang berlaku untuk semua ketunaan yang ada di sekolah luar biasa.

Pedoman Teknis Bangunan SLB ini diharapkan akan mengalami perubahan seperlunya, sejalan dengan pembaharuan atau penggantian kurikulum pendidikan yang berdasarkan pengalaman terjadi setiap 10 tahun sekali. Disamping itu, perubahan juga diperhitungkan terhadap perubahan teknologi di bidang pendidikan dan atau hal lain yang berpengaruh terhadap bangunan dan fasilitas sekolah.


BAB I
SEKOLAH LUAR BIASA

1.1. Pengertian

Sekolah Luar Biasa adalah salah satu jenis sekolah yang bertanggung jawab melaksanakan pendidikan untuk anak anak yang berkebutuhan khusus.

1.2. Program Pendidikan

Sekolah Luar Biasa secara umum dibebani tugas untuk melayani beberapa atau semua jenis ketunaan seperti yang tercantum dalam Tabel dibawah ini.

Tabel Jenis Ketunaan Sekolah Luar Biasa

 

No Jenis Ketunaan Keterangan
1 Tunanetra  
2 Tunarungu  
3 Tunagrahita  
4 Tunadaksa  
5 Tunalaras  
6 Tunaganda  

Keterangan:

Pelayanan jenis ketunaan pada suatu SLB sangat tergantung pada studi kelayakan yang antara lain mengungkapkan kebutuhan jumlah dan jenis ketunaan tertentu yang harus dilayani di lingkungan tersebut.

Kurikulum 1994 bagi Sekolah Luar Biasa seperti semua sekolah umum lainnya secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu Program Umum dan Program Ketrampilan. Program Umum berlaku untuk semua jenis sekolah, terdiri dari 4 mata pelajaran sedangkan Program Ketrampilan jumlahnya bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan pada tiap jenis ketunaan.

Mata pelajaran yang ada, ditinjau dari segi kegiatannya terdiri dari teori dan atau kegiatan praktek. Pokok bahasan dari tiap mata pelajaran, ada yang bersifat teoritis saja dan lainnya mencakup baik teori murni maupun praktek. Untuk pokok bahasan yang bersifat praktek, bagaimanapun juga selalu diawali dengan penjelasan teori pendukungnya.

Dalam proses kegiatan belajar mengajar, sejalan dengan proses pemberian ilmu pengetahuan dan latihan keterampilan, siswa juga dituntut/diharapkan untuk memiliki sikap atau etos kerja yang dituntut dalam masyarakat dan dunia kerja.

Jenis mata pelajaran serta banyaknya jam pelajaran perminggunya untuk tiap program studi tertuang dalam struktur program studi pada Lampiran Jenis Mata Pelajaran. .

1.3. Organisasi Sekolah

Organisasi sekolah luar biasa secara umum tersusun dari unsur:

  • Kepala Sekolah

  • Beberapa Wakil Kepala Sekolah

  • Unit Tata Usaha

  • Beberapa Ketua Jurusan/Instansi

  • Guru

Secara diagramatis, struktur organisasi Sekolah Luar Biasa. dapat dilihat pada Lampiran Struktur Organisasi.

1.4. Siswa

Jumlah siswa per kelas dalam jajaran sekolah luar biasa bervariasi banyaknya. Sekolah luar biasa direncanakan untuk dapat menampung maksimal 18 siswa per kelas.

Tipe Sekolah luar biasa dan jjenjang pendidikannya untuk tiap jenis ketunaan yang dibuka seperti terdapat dalam Tabel Komposisi Kelas dibawah ini.

Tabel 1

1.5. Sarana dan Prasarana Pendidikan

1.5.1. Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan yang dibutuhkan untuk operasional Sekolah Luar Biasa. . . . . terdiri dari:

  • Lokasi

  • Areal

  • Utilitas dan Infrastruktur

  • Bangunan

  • Peralatan

  • Perabot

  • Buku

  • Bahan

Bangunan yang dibutuhkan secara umum dapat dikelompokkan menjadi bangunan administrasi, bangunan untuk kegiatan belajar mengajar dan bangunan untuk mewadahi kegiatan penunjang kegiatan belajar mengajar maupun administrasi.

Gedung Bangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunanetra ada 3 kelompok terdiri dari:

Unit Sekolah

 

Unit Asrama

Unit Bangunan Hunian

 

Gedung Bangunan Sekolah LuarBiasa (SLB) Tunarungu terdiri dari :

Ruang Belajar

Ruang Penunjang

Unit Bangunan Hunian

Gedung Bangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunagrahita terdiri dari:

Unit Sekolah

Unit Asrama

Unit Bangunan Hunian

 

Perabot Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunadaksa terdiri dari :

Unit Sekolah

Unit Asrama

 

Perabot Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunalaras terdiri dari:

Unit Sekolah

Unit ruang perawatan

Perabot untuk Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunaganda terdiri dari :

Unit Sekolah

Unit Asrama

Alat yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dari segi pengoperasiannya dapat dikelompokkan menjadi:

  • Alat Tangan

  • Alat tangan Bermesin

  • Mesin Ringan

  • Mesin

Rincian lebih lanjut yang menjelaskan jenis dan jumlah alat yang dapat dilihat pada dokumen kebutuhan peralatan yang dibuat secara terpisah.
Media pendidikan yang paling sering digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas adalah OHP. Jenis media lainnya akan digunakan adalah :

  • TV

  • Komputer

  • Slide Proyektor

  • Multi Media

Jenis media tersebut diatas digunakan di ruang AVA, yang merupakan bagian dari perpustakaan.

1.5.2. Prasarana Pendidikan

Untuk mengoperasikan sarana tersebut diatas, dibutuhkan fasilitas pendukung atau infra struktur yang terdiri dari :

  • Sumber tenaga listrik 1 fasa dan 3 fasa,

  • Sumber air bersih .

  • Tempat bermain anak.

  • Lapangan olahraga.

  • Lapangan upacara .

  • Jalan komplek

  • Sanitasi

  • Dan sebagainya

 

1.6. Lokasi Sekolah Luar Biasa.

Terkait dengan program pendidikan luar biasa yang lebih berorientasi pada dunia kerja, maka telah diambil suatu kebijakan bahwa lokasi untuk Sekolah Luar Biasa harus berada pada atau mendekati wilayah yang cakupan pelayanan terhadap kebutuhan anak anak berkebutuhan khusus cukup besar dan pencapaiannya relatif mudah. Hal ini bertujuan untuk lebih memudahkan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat akan anak anak berkebutuhan khusus.

BAB II
PERSYARATAN UMUM

 

2.1. Kategori Perencanaan

2.1.1. Perencanaan atau desain fasilitas bangunan dan lingkungan sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu kategori desain (pada site yang baru atau penambahan bangunan baru pada site yang ada) dan kategori rehabilitasi bangunan yang ada.

2.1.2. Penambahan gedung baru harus diupayakan sedemikian rupa sehingga tidak merusak tata letak yang telah baik dan memiliki ciri penampilan yang sama dengan bangunan yang ada.

2.1.3. Rehabilitasi bangunan dikelompokkan menjadi kategori berat, sedang dan ringan. Semua tingkat kategori harus tetap mempertimbangkan pemanfaatan struktur utama, komponen dan elemen bangunan yang ada secara optimal.

2.1.4. Selain desain bangunan dan lanskap dipertimbangkan juga sistem pelaksanaan pembangunan secara bertahap.

 

2.2. Ciri Umum Penampilan Sekolah Luar Biasa

2.2.1. Desain bangunan dan lingkungan sekolah harus bisa mengakomodasi dan mencerminkan ciri sekolah luar biasa secara umum maupun ciri proses/mekanisme pendidikan dalam skala yang lebih kecil. Sekolah memiliki ciri umum dengan penampilannya yang terbuka, formal dan berskala manusia. Secara khusus, sekolah luar biasa harus mengekpresikan ciri jenis isekolah yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

2.2.2. Sekolah Luar Biasa mengemban misi sebagai agen perubahan budaya disamping tempat pendidikan tenaga terampil. Untuk itu, suasana bengkel atau ruang belajar tempat siswa belajar dan berlatih harus menampilkan ciri-ciri efisiensi dan pelayanan khusus.

2.2.3. Ciri Arsitektur daerah yang sering dituntut untuk memberi warna bangunan dan lingkungan sekolah, ditempatkan pada daerah yang bersifat umum, terutama yang bisa dilihat dari luar lingkungan sekolah. Penampilan ciri tersebut harus tetap mempertimbangkan masalah fungsi sebagai bangunan pendidikan serta perimbangan tujuan penampilan ciri daerah dan besarnya biaya pengembangannya.

2.3. Perkembangan Masa Depan

2.3.1. Pertimbangan Teknologi

Desain bangunan dan fasilitas sekolah harus mengacu pada teknologi yang dipergunakan saat ini dan diperkirakan agar dapat mengakomodasi perkembangan teknologi yang diperkirakan akan digunakan pada masa yang akan datang. Hal-hal yang bisa diantisipasi untuk masa depan adalah :

  1. penggunaan komputer dalam proses belajar dan manajemen sekolah.

  2. penggunaan media yang lebih canggih dalam proses mengajar seperti video, film, multi media, tele-conference dengan antena parabola dan sebagainya.

2.3.2. Pertimbangan Kurikulum

Dinamika kurikulum menuntut diciptakannya desain ruang dan bangunan yang memiliki keluwesan didesain kembali untuk alih fungsi guna mewadahi kegiatan yang menurut pengalaman sulit diperkirakan perubahannya dimasa akan datang.

2.4. Desain Arsitektur

2.4.1. Prinsip Desain

Desain bangunan dan lansekap sekolah menganut prinsip fungsionalisme dari masing-masing bangunan dengan pertimbagnan kemudahan operasional dan murahnya biaya perawatan. Segala sesuatu yang tidak fungsional, hendaknya tidak dicantumkan pada desain sekolah.

2.4.2. Optimasi Nilai Estetika

Nilai estetika dan keindahan bangunan maupun tata ruang luar harus dioptimasikan dari elemen dan komponen bangunan yang memang dibutuhkan.

2.4.3. Efisien Desain

Bangunan dan lansekap sekolah luar biasa harus didesain secara khusus yang mencerminkan setiap ketunaan dan seefisien mungkin. Secara total, luas selasar bangunan (termasuk KM/WC dan hall) maksimum sebesar 25% dari keseluruhan luas bangunan.

2.4.4. Komponen Bangunan

Komponen, elemen dan konstruksi bangunan hendaknya didesain sesederhana mungkin, lebih mengutamakan fungsi dan murah biaya pemeliharaannya.

2.4.5. Struktur Bangunan

Desain struktur bangunan secara menyeluruh hendaknya mempertimbangkan :
a. Keluwesan struktur utama bangunan untuk perluasan ruang dan rehabilitasi.
b. Struktur bangunan memungkinkan untuk diberi tambahan berbagai jenis infra struktur seperti jaringan listrik tenaga, pipa gas, air panas, kabel komunikasi dan sebagainya.

2.4.6. Tata letak

Desain tata letak bangunan maupun ruang luar harus mempertim-bangkan berbagai hal sebagai berikut :

  1. Penempatan bangunan pada site dan organisasi sub-ruang/area mengikuti pola pengelompokan umum ,pengelompokan semi privat dan kelompok privat..

  2. Apabila tidak disyaratkan lain, hanya ada satu pintu gerbang masuk kelokasi sekolah. Pintu masuk kedalam komplek bangunan hanya disediakan dua buah. Satu melalui bangunan administrasi dan sebuah lagi berfungsi juga sebagai jalan servis untuk kendaraan

  3. Masa bangunan diusahakan diletakkan sedemikian rupa dengan sumbu bangunan membujur kearah Timur-Barat.

  4. Pergerakan siswa dari satu ruang ke ruang yang lain, secara visual dan auditive tidak mengganggu kegiatan lain yang sedang dilaksanakan diruangan.

  5. Tata ruang luar dan dalam harus bisa mengakomodasi kehidupan sosial yang komunikatip.

  6. Tercerminnya satu kontrol bagi keluar masuknya siswa, guru, pegawai dan orang luar yang berkepentingan.

  7. Tata ruang luar secara keseluruhan berorientasi kedalam pada satu ruang terbuka. Apabila situasi dan kondisi menghendaki lebih, bisa direncanakan beberapa ruang terbuka yang lain yang saling berhubungan yang secara keseluruhan membentuk ruang luar yang menerus (continuous space).

  8. Pagar keliling lokasi sekolah berfungsi utama sebagai pengaman lingkungan secara keseluruhan disamping mendukung ciri penampilan sekolah yang terbuka.

  9. Tersedianya jalur bagi ruang gerak mobil pemadam kebakaran. Jalur tersebut, tidak semuanya harus berupa jalan dengan perkerasan.

2.4.7. Area Terbangun

Perbandinan luas dan tanah atau area terbangun yang diijinkan berkisar antara 25% sampai dengan 60%. Angka yang pasti harus mengikuti peraturan setempat yang mengikut.

2.5. Tata Cahaya

2.5.1. Sumber Penerangan

Apabila tidak disyaratkan lain, penerangan harus menggunakan cahaya alam dengan cara perhitungan yang benar.

2.5.2. Orientasi Jendela

Jendela dengan material bening (tembus pandangan) harus dihadapkan kearah utara atau selatan. Penyimpangan dari ketentuan ini harus ada penyelesaian sedemikian rupa untuk menghindarkan sinar matahari masuk langsung ke dalam ruang.

2.5.3. Jenis Penyinaran

Penerangan dalam ruang, baik secara alamiah maupun buatan harus menghasilkan penyinaran yang merata keseluruhan ruang (diffuse).

2.5.4. Intensitas Penerangan

Intensitas dan jenis penerangan pada tiap jenis ruang secara umum harus disesuaikan dengan kebutuhan tiap jenis kegiatan yang ada pada tiap ruang.

2.5.5. Penempatan Titik Lampu

Penempatan titik lampu untuk penerangan buatan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. diperhitungkan terhadap bidang kerja pada tiap ruang yang bervariasi antara 0.75 M sampai dengan 1.50 M.

  2. kemudaha`n penjangkauan dalam rangka pemeliharaan dan penggantian komponen yang rusak.

2.6 Tata Penghawaan

2.6.1. Sistem Penghawaan

Penghawaan ruangan, apabila tidak disyaratkan lain, menggunakan sistem penghawaan silang. Letak dan ukuran lobang penghawaan harus dipertimbangkan berdasarkan kegiatan, terutama posisi orang yang ada dalam ruang.

2.6.3. Udara Kotor Produk Kegiatan

Udara kotor sebagai akibat kegiatan dalam ruang harus dinetralisasi sebelum dibuang keluar ruang. Udara yang keluar dari salah satu ruangan, diupayakan tidak masuk ke ruangan yang lain walaupun bau dan kandungan materinya tidak berbahaya lagi kesehatan.

2.7. Tata Akustik

2.7.1. Prinsip Akustik Ruang
Secara umum desain ruang harus dibuat sedemikian rupa sehingga tercapai akustik ruang yang baik tanpa bantuan alat pengeras maupun peredam suara.

2.7.1. Kebisingan Antar Ruang

Suara bising timbul dalam ruangan tertentu harus dapat ditolak sedemikian rupa sehingga tidak menjalar ke ruangan yang lain.

2.7.2. Material Akustik

Dalam hal-hal tertentu yang mengharuskan digunakannya material pengkontrol akustik, diupayakan menggunakan bahan akustik yang relatip murah harganya, mudah pelaksanaannya dan murah pemeliharaannya.

2.8. Tata Ekologis

2.8.1. Prinsip Umum

Untuk menanggulangi masalah ekologis lingkungan yang diperkirakan berdampak negatif terhadap sekolah, hendaknya desain bangunan dan lingkungan sekolah memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Penyelesaian detail desain ruang, bangunan, almari tanam, halaman maupun konstruksi supaya tidak berkembang menjadi tempat bersarangnya binatang kecil seperti burung, tikus dan serangga.

  2. Seluruh bagian ruang harus mendapat pencahayaan, penghawaan dan kelembaban yang merata.

2.8.2. Penanggulangan Limbah Sekolah

Desain sekolah luar biasa secara keseluruhan harus mempertim-bangkan dampak penentuan lokasi penyelesaian/pemrosesan limbah yang ada terhadap area sekolah dan lingkungan sekitarnya.

2.9. Tata Pertamanan

2.9.1. Material Pertamanan

Penggunaan material lunak (tanamam) dan material keras untuk penyelesaian ruang luar harus mempertimbangkan fungsi dan biaya pemeliharaan.

2.9.2. Kriteria Jenis Tanaman

Jenis tanaman yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. memberikan keteduhan
b. menyegarkan udara
c. daun tidak mudah rontok
d. tidak mudah diserang ulat (hama)
e. serta murah dan mudah pemeliharaannya.

2.9.3. Kriteria Material Keras

Penggunaan material keras hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jalan setapak, jalan lingkungan, tempat parkir dan pengerasan halaman lainnya diusahakan seminimal mungkin luasnya.

  2. Material yang digunakan dipilih dari jenis yang tidak memproduksi debu dan tidak menghalangi penetrasi air ke dalam tanah sejauh biaya memungkinkan.

2.10. Struktur, Elemen dan Material Bangunan

2.10.1. Standar Bangunan

Apabila tidak disyaratkan lain, bangunan Sekolah Memengah Luar biasa adalah bangunan tipe C menurut standarisasi bangunan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat.

2.10.2. Material Bangunan

Pemilihan material yang akan digunakan pada bangunan sekolah hendaknya mempertimbangkan :

  1. Prioritas penggunaan material yang ada pada daerah dimana sekolah berada sepanjang tidak bertentangan dengan standar tersebut dan bisa berfungsi dengan baik.

  2. Bagian bangunan atau halaman yang muda kotor, harus difikirkan penggunaan materialnya secara khusus sehingga bagian tersebut tidak mudah kotor (berkesan kotor) dan atau mudah dibersihkan. Apabila tidak ada persyaratan khusus yang mengikat, maka material yang digunakan harus setara dengan yang disebutkan dalam standar bangunan Tipe C.

  3. Penggunaan material yang berasal dari daerah lain harus mempertimbangkan masalah pengadaan kembali untuk pemeliharaan dan harga pembangunan secara menyeluruh.

2.10.3. Sistem Struktur

Perencanaan sistem hendaknya berdasarkan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Perhitungan dan desain struktur bangunan harus berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonsia.

  2. Pembangunan sistem struktur atau material yang memiliki hak patent bisa dipertimbangkan apabila secara teknis bisa dipertanggung jawabkan dan ada jaminan bahwa biayanya lebih rendah dibandingkan dengan sistem non-pantet.

2.10.4. Lantai

Perencanaan lantai hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Lantai untuk ruang praktek harus didesain secara khusus sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh setiap jenis ruang praktik dan mudah dibersihkan.

  2. Apabila tidak disyaratkan lain, pada prinsipnya semua ruang secara minimal menggunakan material yang setara dengan yang disyaratkan dalam standart Cipta Karya./PU.

2.10.5. Jendela

Desain jendela dan jenis material yang digunakan supaya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Jendela untuk ruang pendidikan, disamping untuk penerangan dan penghawaan untuk ruang pendidikan direncanakan dengan ambang bawah setinggi 1.5 M dari muka lantai. Perkecualian bisa dilakukan apabila pada dinding dimana jendela tersebut berada digunakan untuk kepentingan yang lain.

  2. Desain jendela dibuat sesederhana mungkin sehingga mudah dibersihkan. Penempatan jendela yang tinggi hendaknya sudah diperhitungkan terhadap kemudahan pemeliharaannya.

  3. Pemakaian daun jendela yang harus dibuka-tutup tiap hari, terurama untuk jendela atas, diupayakan seminimum mungkin jumlahnya.

  4. Material untuk jendela apabila tidak disyaratkan lain, sesuai dengan yang tercantum dalam standar Cipta Karya.

2.10.6. Pintu

Perencanaan pintu baik yang tertutup maupun tanpa daun pintu hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

  1. Ukuran pintu untuk bangunan administrasi dan penunjang dapat mengikuti ukuran standart arsitektur yang berlaku umum.

  2. Ukuran pintu untuk bangunan pendidikan harus bisa dilewati alat dan perabot yang ada dalam ruang tersebut.

  3. Penentuan jenis perlengkapan pintu seperti kunci, engsel dan sebagainya, hendaknya mengutamakan kekuatan disamping faktor estetikanya.

  4. Sistem kunci menggunakan sistem MASTER KEY dengan pembagian beberapa blok. Satu anak kunci untuk semua pintu dan satu anak kunci dan satu anak kunci bagi tiap blok yang direncanakan.

2.10.7. Dinding

Perencanaan dinding, yang utama hendaknya mempertimbangkan antara lain :

  1. Secara umum semua dinding harus murah pemeliharaannya. Hal ini bisa diselesaikan dengan menggunakan material yang tidak mudah kotor atau biaya pemeliharaan yang memang rendah.

  2. Secara konstruktif, dinding hendaknya bersifat partisi supaya memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk kepentingan rehabilitasi ringan.

  3. Penyelesaian khusus bagi permukaan dinding yang mudah kotor karena proses kegiatan bisa dilakukan, misalnya dinging KM/WC bisa diberi lapis keramik.

2.10.8. Plafon

Perencanaan struktur dan material yang digunakan untuk plafon harus mempertimbangkan :

  1. Disamping untuk kerapihan ruang, plafon harus diperhitungkan juga sebagai tempat distribusi pipa-pipa utilitas.

  2. Untuk beberapa jenis ruang, apabila dari segi desain ruang memungkinkan, plafon bisa dihilangkan.

2.10.9. Atap

Perencanaan struktur atap dan materialnya hendaknya mempertimbangkan :

  1. Penyelesaian desain atap secara umum harus betul-betul mempertimbangkan masalah air hujan. Penggunaan talang dalam atau talang cucuran sebaiknya dihindari.

  2. Kemiringan atap harus mengikuti standar yang ditentukan untuk material penutup atap yang digunakan.

  3. Desain atap secara keseluruhan harus sesuai dengan jenis penutup atap yang digunakan. Detail pemasangan penutup atap harus mengikuti ketentuan dari pabrik pembuat komponen penutup atap.

  4. Pemilihan material penutup atap harus mempertimbangkan masalah keawetan dan pengadaan kembali dalam rangka pemeliharaan.

  5. Penggunaan kayu, baja atau material lainnya untuk rangka atap harus mempertimbangkan fungsi, optimasi dan efisiensi harganya.

2.10.10. Kamar Mandi/WC

Perencanaan KM/WC untuk Sekolah Luar Biasa mempertim-bangkan :

  1. penyelesaian bentuk ruang sedemikian rupa sehingga memberi kemudahan dalam proses pembersihan.

  2. penghawaan silang yang sangat baik.

  3. material yang digunakan untuk permukaan lantai dan dinding dari bahan kualitas baik dan mudah dibersihkan.

  4. Kamar mandi/WC dilengkapi dengan septic tank yang berfungsi dengan baik, dengan sistem yang cukup sederhana dan mudah pemeliharaannya.

2.11. Infra Struktur

2.11.1. Lingkup Pekerjaan Infra Struktur

Pekerjaan infra struktur meliputi pekerjaan kelistrikan, air kotor/kotoran, air bersih, air hujan, mekanikal bangunan dan sebagainya harus dihitung sesuai dengan kebutuhan dan mengikuti peraturan yang berlaku secara lokal atau nasional.

2.11.2. Penempatan Jaringan

Samua jaringan infra struktur diusahakan penempatanya sedemikian rupa sehingga mudah pemeliharaan dan penggan-tinya apabila ada kerusakan.

2.11.3. Jalan Lingkungan, parkir dan jalan setapak

Perencanaan jalan, parkir dan jalan setapak hendaknya didasari atas :

  1. Jalan di lingkungan sekolah terutama yang akan dilewati kendaraan pengangkut barang, diperhitungkan mampu menyangga beban tekan

  2. Jaringan jalan lingkungan dan jalan setapak harus direncanakan sedemikian rupa sesuai dengan pola pergerakan pada tata letak bangunan.

  3. Selasar tertutup dibuat untuk hubungan antar bangunan guna melindungi pergerakan manusia dan barang dari hujan dan panas.

  4. Jaringan jalan lingkungan, jalan setapak dan selasar bangunan secara sistem harus bisa mengakomodasi pergerakan/perpindahan barang yang diangkut menggunakan alat pengangkut beroda (troly).

  5. Tempat parkir direncanakan pada tempat yang strategis untuk pencapaian ke area yang dimaksud. Parkir terbuka disediakan bagi kendaraan roda empat atau lebih, parkir tertutup bagi sepeda dan motor.

2.11.4. Kelistrikan

Pokok pikiran yang digunakan untuk merencanakan kelistrikan adalah sebagai berikut

  1. Sumber tenaga listrik diperoleh dari PLN dan atau generator di sekolah dengan tegangan 240 V, 1 dan 3 Phase, untuk digunakan sebagai listrik penerangan dan listrik tenaga.

  2. Perencanaan kelistrikan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
    ~ efisiensi pengkabelan dan panel distribusinya
    ~ keamanan penempatan jaringan kebel
    ~ keamanan dan keindahan penempatan panel listrik
    ~ kemudahan menjangkau dan mengoperasikan panel listrik
    ~ kemudahan pemeliharaan dan penggantian instalasi.

  3. Titik api untuk mensuplai tenaga listrik diupayakan terletak pada dinding atau menggantung pada plafon. Jaringan kabel listrik pada atau dalam lantai harus dihindarkan.

  4. Distribusi jaringan listrik dibagi menjadi beberapa panel atau sekring, sehingga kerusakan pada salah satu bagian bangunan/ruang tidak akan mengganggu suplai listrik ruang yang lain.

2.11.5. Air bersih

Perencanaan air bersih di sekolah hendaknya mempertim-bangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Air bersih direncakan bersumber dari PAM dan atau sumur dalam untuk kepentingan kegiatan belajar mengajar, dan keperluan lain seperti KM/WC.

  2. Pemakaian air bersih untuk kepentingan tersebut diatas harus memiliki jaringan utama masing-masing yang dilengkapi dengan katup utama. Setiap jalur utama juga direncanakan dibagi menjadi jalur cabang dengan katup cabang masing-masing.

  3. Apabila air sumur dalam tidak memenuhi standar kualitas yang diinginkan, maka harus direncanakan pula instalasi untuk pengolahan air tersebut.

  4. Ketinggian bak menara air harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak diperlukan pompa tambahan untuk kepentingan kelancaran pendistribusian air keseluruhan bagian ruang yang memerlukan.

2.11.6. Sistem Pemadam Kebakaran

Secara umum, sistem pemadam kebakaran di sekolah diselesaikan dengan cara:

  1. Menggunakan alat pemadam kebakaran portable dan hydrant.

  2. Alat pemadam kebakaran portable hanya digunakan dalam ruang ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau.

2.11.7. Air Kotor dan Kotoran

Perencanaan pengendalian air kotor dan kotoran secara umum adalah sebagai berikut

  1. Apabila tidak ditampung pada sistem drainase kota, maka penanganan air kotoran harus dilakukan dengan sistem pengolahan/peresapan di lokasi.

  2. Jarak sumur resapan ke sumur dalam minimal 10 M.

  3. Jenis pengolahan air kotor dan kotoran disesuaikan dengan jenis air kotor dan keadaan tanah di lokasi.

2.11.8. Air Hujan

Prinsip pengendalian air hujan pada lokasi hendaknya mengikuti prinsip sebagai berikut

  1. Air hujan diusakan dialirkan ke saluran pembuangan lingkungan yang ada.

  2. Apabila tidak ada saluran kota yang menampung air hujan, harus direncanakan suatu sistem peresapan untuk menanggulanginya.

  3. Apabila dibutuhkan, bisa dibuatkan kolam penampung di lokasi sekolah.

2.11.9. Limbah hasil Praktek

Pengendalian limbah padat maupun cair di sekolah dengan cara-cara antara lain :

  1. Dibuang keluar lokasi sekolah, dengan cara diangkut oleh Dinas Kebersihan Kota.

  2. Pemusnahan atau penetralan limbah hasil praktek di lokasi apabila tidak ada fasilitas kota yang menampung.

  3. Fasilitas pengolahan limbah harus direncanakan sesuai dengan ketentuan dari Menteri KLH.

2.11.10. Kelengkapan Mekanikal Bangunan

Perencanaan mekanikal bangunan harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Jaringan pipa instalasi udara tekan dan gas hanya boleh diletakkan pada dinding dan atau tergantung pada plafon (dengan cable tray misalkan).

  2. Penggunaan peralatan tertentu untuk tujuan kelengkapan mekanikal, kelistrik dan pemeliharaan bangunan pada prinsipnya dimungkinkan dengan tetap mengacu pada biaya yang disediakan dan kemudian operasionalnya.

2.11.11. Keamanan

Sistem pengamanan pada prinsipnya diselesaikan secara fisik misalkan dengan cara memberi teralis pada jendela, pintu dibuat sehingga tidak mudah rusak baik daun pintu, kunci atau engselnya. Sistem pengamanan secara elektronik dimasa yang akan datang harus pula difikirkan kemungkinannya.

2.12. Papan Nama Sekolah

2.12.1. Letak Papan Nama

Papan Nama Sekolah diletakkan di halaman bagian depan, sebagai satu kesatuan dengan desain tampak depan bangunan.

2.12.2. Desain Papan Nama

Desain Papan Nama Sekolah mengikuti standar yang ditentukan oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dimana sekolah berada.

2.13. Tiang Bendera

2.13.1. Jumlah Tiang Bendera

Secara umum, pada setiap sekolah harus ada tiang bendera yang diletakkan didepan bangunan administrasi. Apabila kegiatan upacara dilakukan di bagian dalam sekolah, harus ada tiang bendera yang kedua di lapangan upacara tersebut.

2.13.2. Ukuran Tiang Bendera

Jarak tiang bendera yang berada didepan kira-kira 8 meter dari banguan. Untuk tiang bendera di dalam lokasi, ukuran bisa disamakan atau lebih kecil.

2.14. Petunjuk Arah dan Nama Ruang

2.14.1. Dasar Pemikiran Desain

Petunjuk arah dan nama ruang harus difikirkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari desain bangunan secara menyeluruh, berupa kode yang mudah untuk dimengerti dan dihafalkan serta dibaca.

2.14.2. Penempatan

Petunjuk arah dan nama ruang pada prinsipnya harus diletakkan pada tempat yang mudah dilihat.

2.14.3. Desain

Desain petunjuk arah dan nama ruang harus dibuat sederhana, menarik dan indah.

BAB III
PERSYARATAN KHUSUS

 

Sekolah Luar biasa mempunyai persyaratan khusus yang harus diwadahi dalam pelaksanaan pembangunan gedung sebab setiap penyandang cacat /berkebutuhan khusus harus diperhitungkan asas aksessibilitasnya.

Adapun asas aksesibilitas tersebut antara lain :

  1. KEMUDAHAN, yaitu setiap orang dapat mencapai semua semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.

  2. KEGUNAAN, yaitu setiap orang harus dapat mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.

  3. KESELAMATAN, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suaqtu lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatn bagi semua orang.

  4. Kemandirian, yaitu setiap orang harus bisa mencapai,masuk dan mempergunakan semua tempat atau banguan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

1.1 Persyaratan Dasar Sekolah Luar Biasa

  • Semua tangga masuk harus dilengkapi dengan RAMP

  • Untuk semua SLB yang melayani tunanetra nama nama ruang dilengkapi dengan huruf braile

  • Persyaratan Untuk SLB yang melayani tunanetra semua dinding selasar dilengkapi dengan elemen penunjuk yang bisa diraba penyandang tunanetra.

  • Lantai selasar SLB yang melayani tunanetra dilengkapi dengan lantai yang bertekstur yang bisa diraba oleh tongkat tunanetra yang fungsinya sebagai penunjuk arah.

  • Semua pertemuan sisi antara dua dinding atau dua bidang yang tajam sebaiknya dipinggul sehingga tidak tajam (tidak membahayakan tunanetra bila membentur sisi tersebut).

1.2 Ukuran Dasar Ruang

1.2.1 Esensi

Ukuran dasar ruang tiga dimensi (panjang, lebar,tinggi) yang mengacu kepada ukuran tubuh manusia dewasa, peralatan yang di gunakan, dan ruang yang di butuhkan untuk mewadahi pergerakannya.

1.2.2 Persyaratan.

a. Ukuran dasar ruang di terapkan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan, bangunan dengan fungsi yang memungkinkan digunakkan oleh orang banyak secara sekaligus, dan menggunakan ukuran dasar makasimum.
b. Ukuran dasar minimum dan maksimum yang digunakan dalam pedoman ini,dapat ditambah atau dikurangi sepanjang asas asas aksebilitas dapat tercapai.

1.3 Jalur untuk Pejalan Kaki

1.3.1 Esensi

Jalur yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi penyandang cacat yang disiapkan berdasarkan kebutuhan manusia untuk dapat bergerak aman, nyaman dan tak terhalang.

1.3.2 Persyaratan

  1. Permukaan. Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca bertekstur halus dan tidak licin. Apabila harus terjadi gundukan tingginya tidak lebih dari 1,25 cm. Bila menggunakan karpet maka ujungnya harus kencang dan mempunyai trim yang permanen.

  2. Kemiringan. Kemiringan maksimum 7 derajat dan pada setiap 9 m disarankan terdapat pemberhentian untuk istirahat.

  3. Area istirahat. Terutama digunakan untuk membantu pengguna jalan penyandang cacat

  4. Pencahayaan. Berkisar antara 50-150 lux tergantung pada intensitas pemakaian, tingkat bahaya dan kebutuhan keamanan.

  5. Perawatan. Dibutuhkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan.

  6. Drainage. Dibuat tegak lurus dengan arah jalur dengan kedalaman maksimal 1,5 cm mudah dibersihkan dan perletakan lubang di jauhkan dari tepi ramp.

  7. Ukuran. Lebar minimum jalur pedestrian adalah 136 cm untuk jalur satu arah dan 180 cm untuk jalur dua arah. Jalur pedestrian harus bebas dari pohon tiang, rambu rambu dan benda benda pelengkap jalan yang menghalang.

  8. Tepi pengaman. Disiapkan bagi penghentian roda kendaraan dan tongkattuna netra kea rah area yang berbahaya. Tepi pengaman di buat setinggi minimum 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur pedestrian.

1.4. Area parkir

1.4.1 Esensi

Are parkir adalah tempat parkir kendaraan yang dikendarai oleh penyandang cacat, sehingga diperlukan tempat yang lebih luas untuk naik turun kursi roda, daripada tempat parkir yang biasa. Sedangkan daerah untuk menaik turunkan penumpang adalah tempat bagi semua penumpang termasuk penyandang cacat, untuk naik atau turun dari kendaraan.

1.4.2 Persyaratan

a. Fasilitas parkir kendaraan

  1. Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/fasilitas yang di tuju dengan jarak maksimum 60 meter.

  2. Jika tempat parkir tidak berhubungan langsung dengan bangunan , misalnya pada parkir taman dan tempat terbuka lainnya, maka tempat parkir harus diletakkan sedekat mungkin dengan pintu gerbang masuk dan jalur pedestrian.

  3. Area parkir arus cukup mempunyai ruang bebas di sekitarnya sehingga pengguna berkursi roda dapat dengan mudah masuk dan keluar dari kendaraannya.

  4. Area parkir khusus penyandang cacat di tandai dengan symbol/tanda parkir penyandang cacat yang berlaku.

  5. Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ramp trotoir di kedua sisi kendaraan.

  6. Ruang parkir mempunyai lebar 375 cm untuk parkir tunggal atau 625 cm untuk parkir ganda dan sudah di hubungkan dengan ramp dan jalan menuju fasilitas fasilitas lainnya.

b. Daerah menaik turunkan penumpang

  1. Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu lintas sibuk adalah 360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm

  2. Dilengkapi dengan fasilitas ramp, jalur pedestrian dan rambu penyandang cacat.

  3. Kemiringan maksimal 5 derajat dengan permukaan yang rata di semua bagian.

  4. Diberi rambu penyandang cacat yang biasa digunakan untuk mempermudah dan membedakan dengan fasilitas serupa bagi umum.

1.5 Pintu

1.5.1 Esensi

Pintu adalah bagian dari suatu tapak bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk dan keluar dan pada umumnya dilengkapi dengan penutup(daun pintu)

1.5.2. Persyaratan

  1. Pintu pagar ketapak bangunan harus mudah di buka dan di tutup oleh penyandang cacat.

  2. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm dan pintu pintu yang kurang penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.

  3. Didaerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau ketinggian lantai.

  4. Jenis pintu yang penggunaannya tidak di anjurkan :
    i. Pintu geser
    ii. Pintu yang berat dan sulit untuk di buka/ditutup
    iii. Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil.
    iv. Pintu yang terbuka kekedua arah (dorong dan tarik)
    v. Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tunanetra.

  5. Penggunaan pintu otomatis di utamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran.
    Pintu tersebut tidak boleh membuka sepenuhnya dalam waktu lebih cepat lebih cepat dari 5 detik dan mudah untuk menutup kembali.

  6. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu

  7. Alat alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna karena pintu yang terbuka sebagian dapat membahayakan penyandang cacat

  8. Plat tending yang diletakkan dibagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda.

1.6 Ramp

1.6.1 Esensi

Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga/peyandang cacat.

1.6.2 Persyaratan

  1. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7 derajat, perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp( curb ramps landing). Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6 derajat.

  2. Panjang mendatar dari satu ramp ( dengan kemiringan 7 derajat) tidak boleh lebih dari 900 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang.

  3. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman dan 136 cm dengan tepi pengaman. Untuk ramp yang digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya, sedemikian sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri2.

  4. Bordes (muka datar) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm.

  5. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.

  6. Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm dirancang untuk menghalangi roda kursi roda agar tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp.
    Apabila berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.

  7. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu pencahayaan di ramp waktu malam hari.
    Pencahayaan disediakan pada bagian bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian bagian yang membahayakan.

  8. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan( handrail) yang dijamin kekuatannya denga ketinggian yang sesuai.

1.7 Tangga

1.7.1 Esensi

Fasilitas bagi pergerakab vertical yang di rancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan ebar yang memadai.

1.7.2 Persyaratan

  1. harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam.

  2. Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 60 derajat.

  3. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga.

  4. Harus dilengkapi dengan pegangan rambat ( handrail) minimum pada salah satu sisi tangga.

  5. Pegangam rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujung ujungnya ( puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm.

  6. Pegangan rambat harus mudah di pegang dengan ketinggian 65 – 80 cm dari lantai,bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu da bagian ujungnya harus bulat atau di belokkan dengan baik kearah lantai, dinding atau tiang.

  7. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan harus di rancang sehingga tidak ada air hujan yang menggenang pada lantai.

1.8 Kamar Kecil

1.8.1 Esensi

Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuksemua orang ( tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua, ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas umum lainnya.

1.8.2 Persyaratan

  1. Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu “ penyandang cacat “ pada bagian luarnya.

  2. Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda.

  3. Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda (45 – 50 cm).

  4. Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat ( handrail ) yang memiliki posisi dan ketinggian yang disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain.

  5. Pegangan di sarankan memiliki bentuk siku siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda.

  6. Letak kertas tisu,air, kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapan perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus di pasangsedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan keterbatasan fisik dan bisa di jangkau pengguna kursi roda.

  7. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel.

  8. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin.

  9. Pintu harus mudah di buka untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan menutup.

  10. Kunci kunci toilet atau grendel di pilih sedemikian sehingga bisa di buka dari luar jika terjadi kondisi darurat.

  11. Pada tempat tempat yang mudah di capai seperti pada daerah pintu masuk, dianjurkan untuk menyediakan tombol pencahayaan darurat (emergency light button) bila sewaktu waktu terjadi pemadaman listrik.

1.9 Wastafel

1.9.1 Esensi

Fasilitas cuci tangan, cuci muka , berkumur atau gosok gigi yang bisa di gunakan untuk semua orang.

1.9.2 Persyaratan

  1. Wastafel harus di pasang sedemikian sehingga tinggi permukaannya dan lebar depannya dapat di manfaatkan oleh pengguna kursi roda dengan baik.

  2. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel.

  3. Wastafel harus memiliki ruang gerak dibawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki pengguna kursi roda.

  4. Pemasangan ketinggian cermin di perhitungkan terhadap pengguna kursi roda.

1.10 Perlengkapan dan Peralatan Kontrol

1.10.1 Esensi

Merupakan perlengkapan dan peralatan pada bangunan yang bisa mempermudah semua orang ( tanpa terkecuali penyandang cacat, orang tua, dan ibu ibu hamil) untuk melakukan control peralatan tertentu seperti system alarm, tombol/stop kontak, dan pencahayaan.

1.10.2. Persyaratan

a. Sistem alarm/peringatan

  1. Harus tersedia peralatan peringatan yang terdiri dari system peringatan suara ( vocal alarms) system peringatan bergetar ( vibrating alarms ) dan berbagai petunjuk serta pertandaan untuk melarikan diri pada situasi darurat.

  2. Stop kontak harus dipasang dekat tempat tidur untuk mempermudah pengoperasian system alarm.

  3. Semua pengontrolperalatan listrik harus dapat dioperasikan dengan satu tangan dan tidak memerlukan pegangan yang sangat kencang atau samapai dengan memutar lengan.

b. Tombol dan stop kontak

Tombol dan stop kontak dipasang pada tempat yang posisi dan tingginya sesuai dan mudah di jangkau oleh enyandang cacat.

1.11 Rambu

1.11.1 Esensi

Fasilitas dan elemen bangunan yang digunakan untuk memberikan informasi, arah, penanda atau petunjuk bagi penyandang cacat.

1.11.2 Persyaratan

a. Penggunaan rambu terutama di butuhkan pada:

  1. Arah dan tujuan jalur pedestrian.

  2. KM/WC umum, telpon umum

  3. Parkir khusus penyandang cacat

  4. Nama fasilitas dan tempat

b. Persyaratan rambu yang di gunakan :

  1. Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat di baca oleh tunanetra dan penyandang cacat lainnya.

  2. Rambu yang berupa gambar dan symbol yang mudah dan cepat di tafsirkan artinya.

  3. Rambu yang berupa tanda dan symbol internasional.

  4. Rambu yang menerapkan metode khusus (missal: perbedaan perkerasan tanah,warna kontras dll)

  5. Karakter dan latar belakang rambu harus di buat dari bahan yang tidak silau. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar belakangnya, dengan permainan terang gelap.

  6. Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan tinggi antara 3 :5 dan 1:1 serta ketebalan huruf antara 1 : 5 dan 1 : 10

  7. Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus di ukur sesuai dengan jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca.

c. Lokasi penempatan rambu

  1. Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas pandang tanpa penghalang.

  2. Satu kesatuan system dengan lingkungan

  3. Cukup mendapat pencahayaan termasuk penambahan lampu ada kondisi gelap.

  4. Tidak mengganggu arus( pejalan kaki dll) dan sirkulasi (buka/tutup dll).

PENDIDIKAN ANAK LUAR BIASA

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini peran lembaga pendidikan sangat menunjang tumbuh kembang anak dalam berolah yste maupun cara bergaul dengan orang lain.Selain itu,lembaga pendidikan tidak hanya sebagai wahana untuk ystem bekal ilmu pengetahuan, namun juga sebagai lembaga yang dapat member skill atau bekal untuk hidup yang nanti di harapkan dapat bermanfaat didalam masyarakat.

Sementara itu lembaga pendidikan tidak hanya ditunjukkan kepada anak yang memiliki kelengkapan fisik,tetapi juga kepada anak yang memiliki keterbelakangan mental.mereka di anggap sosok yang tidak berdaya,sehingga perlu dibantu dan dikasihani untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu disediakan berbagai bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka. Pada dasarnya pendidikan untuk berkebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak-anak pada umumnya.

Disamping itu pendidikan luar biasa,tidak hanya bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus,tetapi juga ditujukan kepada anak-anak normal pada umumnya.

1.2 Tujuan

  1. Untuk mengetahui makna dari ystem pendidikan luar biasa
  2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah yang ada dalam pendidikan anak luar biasa
  3. Untuk menambah wawasan bagi pembaca tentang pendidikan anak luar biasa

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan pada makalah ini,rumusan

masalahnya adalah:

  1. Apa pengertian pendidikan  luar biasa?
  2. Jelaskan bagaimana sejarah lahirnya pendidikan anak luar biasa?
  3. Sebutkan pasal-pasal yang melandasi tentang pendidikan anak luar biasa!
  4. Sebutkan visi dan misi dalam perkembangan sekolah luar biasa!
  5. Bagaimana cara mengatasi permasalahan yang ada dalam pendidikan anak yang berkebutuhan khusus?

1

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Pendidikan Luar Biasa

 

  1. Pengertian pendidikan luar biasa

Pendidikan Luar Biasa adalah merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses penbelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental social, tapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Selain itu pendidikan luar biasa juga berarti pembebelajaran Yng di rancang khususnya untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari anak kelainan fisik.pendidikan luar biasa akan sesuai apabila kebutuhan siswa tidak dapat di akomodasikan dalam program pendidikan umum.secara singkat pendidikan luar biasa adalah program pembelajaran yang di siapkan untuk memenh kebutuhan unik dari individu siswa.contohnya adalah seorang anak yang kurang dalam pengelihatan memerlikan buku yan hurufnya diperbesar.

Pedidikan lua biasa merupakan salah satu komponen dalam salah satu system pemberian layanan yang kompleks dalam memebantu individu untuk mencapai potensinya secara maksimal.pendidikan luar biasa di ibaratkan sebagai sebuah kendaraan dimana siswa penyandang cacat,meskipun berada di sekolah umum,diberi garansi untuk mendapatkanpendidikan yang secara khusus di rancang untuk membantu mereka mencapai potensi yang maksimal.pendidikan luar biasa tidak di batasi oleh tempat umum pemikiran kontemporer menyarankan bahwa layanan sebaiknya diberikan dilngkungan yang lebih alami dan normal yang sesuai dengan kebutuhan anak.individu-individu penyandag cacat hendaknya dipandang sebagai individu yang sama bukannya berbeda dari teman –teman sebaya lainnya dan yang harus di ingat

bahwa pandanglah mereka sebagai  pribadi bukan kecacatannya.

2

  1. Macam-Macam pendidikan system pendidikan anak luar biasa.
    1. System pendidikan segregasi

Sistem pendidikan dimana anak berkelainan terpisah dari system pendidikan anak normal.penyelenggaraan system pendidikan segregasi dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelnggaraan pendidikan untuk anak normal.

Keuntungan system pendidikan segregasi:

a. Rasa ketenangan pada anak luar biasa

b. Komunikasi yang mudah dan lancar

c. Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan

kemampuan anak.

d. Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa

e. Mudahnya kerjasama dengan multidisipliner.

f. Sarana dan prasarana yang sesuai.

Kelemahan system pendidikan segregasi:

  1. Sosialisasi terbatas
  2. Penyelenggaraan pendidikan yang relative mahal

Bentuk-bentuk system pendidikan segregasi:

  1. Sekolah Luar Biasa
  2. Sekolah Dasar Luar Biasa
  3. Kelas Jauh/Kelas Kunjung
  4. Sekolah Berasrama
  5. Hospital School
    1. Sistem pendidikan integrasi

Sistem pendidikan bagi siswa luar biasa yang bertujuan memberikan pendidikan yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal agar dapat mengembangkan diri secara optimal.

Keuntungan system pendidikan integrasi

  1. Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam  memperoleh pendidikan
  2. Dapat mengembangakan bakat ,minta dan kemampuan secara optimal
  3. Lebih banyak mengenal kehidupan orang normal
  4. Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi
  5. Harga diri anak luar biasa meningkat
  6. Dapat menumbuhkan motipasi dalam belajar

3

2.2       Sejarah perkembangan anak luar biasa

Para ahli sejarah pendidikan biasanya menggambarkan mulainya pendidikan luar biasa pada akhir abad kedelapan belas atau awal abad kesembilan belas.Di Indonesia sejarah perkembangan luar biasa dimulai ketika belanda masuk keindonesia,(1596-1942) mereka memperkenalkan system persekolahan dengan orientasi barat.Untuk pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat di buka lembaga –lembaga khusus.lembaga pertama untuk pendidikan anak tuna netra grahita tahun1927 dan untuk tuna runggu tahun 1930.ketiganya terletak dikota bandung.

Tujuh tahun setelah proklamasi kemerdekaan ,pemerintah RI mengundang-undangkan yang pertama mengenai pendidikan .Mengenai anak-anak yang mempunyai kelainan fisik atau mental ,undang-undang itu menyebutkan pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan (pasl 6 ayat 2) dan untuk itu anak-anak tersebut pasal 8 yang mengatakan:semua anak-anak yang sudah berumur 6 tahun berhak dan sudah berumur 8 tahun di wajibkan belajar di sekolah sedikitnya 6 tahun.dengan di berlakukannya undang-undang tersebut   maka sekolah-sekolah baru yang  khusus bagi anak-anak penyandang cacat.termasuk untuk anak tuna daksa dan tuna laras ,sekolah ini disebut sekolah luar biasa(SLB).

Sebagian berdasarkan urutan sejarah berdirinya SLB pertama untuk masing-masing kategori kecacatan SLB itu di kelompokkan menjadi :

(1) SLB bagian A untuk anak tuna netra

(2) SLB bagian B untuk anak tuna rungu

(3) SLB bagian C untuk anak tuna Grahita

(4) SLB bagian D untuk anak tuna daksa

(5) SLB bagian E untuk anak tuna laras

(6) dan SLB bagian F untuk anak cacat ganda

Konsep pendidikan terpadu di perkenalkan di Indonesia pada tahun 1978 yang bertujuan khusus untuk anak tuna netra.

2.3        Pasal-pasal yang melandasi pendidikan luar biasa

 

Seluruh warga Negara tanpa terkecuali apakah dia mempunyai kelainan atau tidak mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan .Hal ini di jamin oleh  UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang mengumumkan ,bahwa ;tiap –tiap warga Negara  berhak mendapat pengajaran.

4

Pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan undang-undang NO 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional (UUSPN).Dalam undang-undang tersebut di kemukakan hal-hal yang erat hubungan dengan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus sebagai berikut:

  1. Bab 1 pasal 1 (18)wajib belajar adalah program pendidikan minimal  yang harus di ikuti oleh warga Negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah  .
  2. Bab II pasal 4 (1) pendidikan dislenggarakan secara demokratis berdasarkan HAM .agama ,cultural dan kemajmukan bangsa.
  3. Bab IV pasal 5(1) setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperolehpendidikan yang bermutu baik yang memiliki kelainan fisik,emosional ,mental,intelektual atau social berhak memperoleh pendidikan khusus
  4. Bab V pasal 12(1)huruf b.mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat ,minat,dan kemampuannya.
  5. Bab VI .bagaian kesebelas .Pendidikan khusus dan pendidikan khusus, pasal 32 (1)pendidikan khusus bagi peserta yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik emosional,mental,social,atau memiliki potensi kecerdasan.

2.4       Visi dan Misi perkembangan sekolah luar biasa

 

Selain dari beberapa perundangan dan persatuan yang dikemukakan diatas,masih ada kebijakan-kebijakan lainya yang berhubungan dengan layanan  pendidikan  bagi anak dengan kebutuhan pendidikan khusus ,salah satunya adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh direktorat pembinaan sekolah luar biasa yang di tuangkan dalam visi dan misi sebagai berikut:

-          Visi:Terwujudnya pelayanan yang optimal bagi anak kebutuhan khusus sehingga dapat mandiri dan berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

-           Misi:Memperluas kesempatan bagi semua anak berkebutuhan khusus melalui program segregasi ,terpadu dan inklusi.

-          Meningkatkan  mutu dan  relevansi pendidikan luar biasa dalam hal pengetahuan ,pengalaman ,atau keterampilan yang memadai.

5

Berbagai kebijakan yang berhubungan dengan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan pendidikan khusus tidak hanya yang bersifat regional dan nasional ,tetapi juga yang bersifat internasional yaitu:

  1. 1993 peraturan standar tentang kesamaan kesempatan untuk orang-orang penyandang cacat (PBB ,dipublikasikan tahun 1994)
  2. 1994 salaman tentang pndidikan inklusif (UNESCO,dipublikasikan tahun 1994,laporan terakhir tahun 1995).
  3. 2000 kesempatan Dakar tentang pendidikan tentang semua (UNED).
  4. Kecendrungan dalam pendidikan luar biasa

Berikut ini akan di kemukakan beberapa kecendrungan yang secara signifikan mempengaruhi pendidikan luar biasa di bawah ini:

  1. Pendidikan Inklusif

Tidak ada topik dalam pendidikan luar biasa yang mempunyai dampak yang luas atau mengakibatkan banyaknya kontraversi selain inklusi.

Inklusi adalah suatu system yang dapat saling membagi diantara setiap anggota sekolah sebagai masyarakat belajar,guru administrator staf  lainnya siswa,dan orang tua.Inklusi meliputi para siswa gifted dan berbakat ,mereka yang mempunyai resiko kegagalan karena lingkungan hidup mereka .mereka yang mempunyai kelainan dan mereka yang mempunyai prestasi rata-rata .Inklusi adalah suatu sistem yang di percaya dapat terwujud apabila ada pemahaman dan penerimaan dari semua staf.

  1. Beberapa ahli mengatakan bahwa hanya dengn cara ini sekolah dapat mennjukkan sistem inklusip dimana seluruh siswa dapat berprestasi penuh dalam  pendidikan umum yang berdasarkan kurikulum eksplisit. Kurikulum eksplisit adalah kurikulum yang diperuntungkan bagi siswa pada umumnya yang tidak dapat diakses oleh para siswa yang berkelainan. Sedangkankurikulum implisit adalah kurikulum yang termasuk didalamnya intraksi sosial dan berbagiketrampilan yang sangat baik dipelajari bersama sama dengan siswa pada umumnya.

 

 

6

2.5       Cara mengatasi permasalahan yang ada dalam pendidikan anak yang berkebutuhan khusus.

Untuk mengatasi permasalahan pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus,maka telah disediakan berbagai bentuk layanan pendidikann (sekolah)bagi mereka.pada dasarnya sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus sama dengan sekolah anak-anak pada umumnya. Namun kondisi dan karekteristik kelainan anak yang disandang anak yang berkebutuhan khusus, maka sekolah bagi mereka di rancang secara khusus sesuai dengan jenis dan karakteristik kelainannya.

Sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

  1. Sekolah Luar Biasa (SLB)

Yaitu sekolah yang di rancang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus dari satu jenis kelainan.

Di Indonesia kita mengenal bermacam-macam SLB,antara lain:

-  SLB  bagian A (Khusus untuk anak Tuna netra)

-  SLB  bagian B (Khusus untuk anak Tuna rungu)

-  SLB  bagian C (Khusus untuk anak Tuna grahita)

Dalam satu unit SLB biasanya terdapat berbagai jenjang pendidikan mulai dari  SD,SMP, Hingga lanjutan.

  1. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)

Yaitu bentuk persekolahan (layanan pendidikan) bagi anak berkebutuhan khusus hanya satu jenjang pendidikan SD.

Selain itu siswa SDLB tidak hanya terdiri dari satu jenis kelainan saja, tetapi bias dari berbagai jenis kelainan. Misalkan dalam satu unit SDLB dapat menerima siswa tuna netra,tuna rungu,tuna daksa,bahkan siswa autis.

7

DAFTAR PUSTAKA

 

http://larasi.com/pendidikan/tunagrahita-tidak-selalu-idiot.lala

http://www.ditplb.or.id/2006/index.php?menu=profile&pro=181

www.GrameenFoundation.orgwww.GrameenFoundation.org

www.depdiknas.go.id

Santriw4n's Blog

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

HIMA PLB UNINUS

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Plbfkipuninus's Blog

Just another WordPress.com site

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Santriw4n's Blog

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

HIMA PLB UNINUS

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Plbfkipuninus's Blog

Just another WordPress.com site

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.